IHSG Kembali ke Level 5.800 di Akhir Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hampir 1% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (16/7/2018).
Renat Sofie Andriani | 16 Juli 2018 13:05 WIB
Karyawan melintas di antara monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hampir 1% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (16/7/2018).

IHSG melemah 0,97% atau 57,86 poin ke level 5.886,22 pada akhir sesi I, setelah dibuka turun tipis 0,04% atau 2,16 poin di level 5.941,91.

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/7), IHSG mampu melanjutkan relinya di hari kelima berturut-turut dengan berakhir menguat 0,61% atau 36,20 poin di level 5.944,07. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.879,40 – 5.956,80.

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 143 saham menguat, 220 saham melemah, dan 234 saham stagnan dari 597 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Seluruh sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona merah dengan tekanan utama sektor industri dasar (-1,86%), aneka industri (-1,85%), dan infrastruktur (-1,38%).

Bersama IHSG, indeks saham lain di Asia Tenggara juga melemah siang ini, dengan indeks FTSE Malay KLCI (-0,19%), FTSE Straits Times Singapura (-0,84%), indeks SE Thailand (-0,52%), dan indeks PSEi Filipina (-0,60%).

Di kawasan Asia lainnya, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,39%, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,24%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing turun 0,62% dan 0,61%.

Secara keseluruhan, volume perdagangan pada mayoritas pasar di Asia turun saat aktivitas perdagangan di Jepang ditiadakan karena libur nasional.

Laporan Biro Statistik Nasional China (NBS) hari ini mengungkapkan, produk Domestik Bruto (PDB) China tumbuh 6,7% pada kuartal II/2018 dari tahun sebelumnya, lebih lambat dari raihan pada kuartal pertama yakni 6,8%.

Di sisi lain, produksi industri naik 6% pada Juni dari bulan sebelumnya, penjualan ritel meningkat 9% pada Juni, sedangkan investasi aset tetap naik 6% sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Data ekonomi China pada kuartal kedua tersebut membebani pasar di seluruh Asia sepanjang perdagangan hari ini ini, sekaligus menambah kekhawatiran investor tentang dampak perang perdagangan China-AS terhadap pertumbuhan ekonomi di China dan seluruh dunia.

Dilansir Bloomberg, tensi dagang namun sedikit mereda setelah sejumlah pejabat pemerintahan China tampak membatasi respons mereka terhadap ancaman tarif Presiden AS Donald Trump di tengah ekonomi yang melambat, turunnya pasar saham, dan mata uang yang melemah.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top