Proyeksi Semester II/2018 : Emisi Obligasi Korporasi akan Terbatas

Emisi surat utang korporasi hingga akhir tahun ini kemungkinan tidak akan mampu melampaui rekor yang dicapai tahun lalu, menimbang tantangan bagi emiten untuk menerbitkan surat utang akan lebih berat akibat meningkatkan imbal hasil dan ketidakpastian pasar.
Emanuel B. Caesario | 13 Juli 2018 00:39 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA—Emisi surat utang korporasi hingga akhir tahun ini kemungkinan tidak akan mampu melampaui rekor yang dicapai tahun lalu, menimbang tantangan bagi emiten untuk menerbitkan surat utang akan lebih berat akibat meningkatkan imbal hasil dan ketidakpastian pasar.

Salyadi Saputra, Direktur Utama Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo, mengatakan bahwa emisi obligasi korporasi pada semester pertama tahun ini mencapai Rp59,1 triliun, tumbuh tipis 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp58,2 triliun.

Meski begitu, beberapa emisi yang masuk dalam pencatatan emisi Juni baru terealisasi pada awal Juli lantaran terbatasnya hari kerja pada Juni lalu. Dirinya menilai capaian tersebut masih sesuai dengan estimasi Pefindo.

Menurutnya, sepanjang semester pertama tahun ini tidak banyak emiten yang memutuskan untuk menunda atau membatalkan emisi karena kondisi pasar terkini.

Lagi pula, mayoritas emiten tersebut sudah melakukan penawaran umum sebelum tekanan pasar terjadi, sehingga rencana emisi relatif tidak berubah.

Salyadi mengatakan, per akhir Juni Pefindo masih mengantongi mandat pemeringkatan penerbitan obligasi senilai Rp65,57 triliun. NIlai tersebut sejatinya masih tergolong tinggi, tetapi dirinya tidak terlalu yakin seluruh mandat tersebut akan terealisasi menjadi penerbitan bila menimbang kondisi pasar terkini.

Realisasi penerbitan umumnya sangat tergantung pada peringkat yang dikantongi emiten yang akan menentukan tingkat spread yield emiten tersebut terhadap surat utang negara yang jadi acuan.

Selain itu, emiten juga akan melihat perkembangan yield SUN, yang mana sayangnya saat ini kian tinggi sehingga tentu menyebabkan biaya dana emiten akan tinggi pula.

“Tahun lalu, emisi pada semester keduanya sangat luar biasa. Nah, kalau tahun ini kita harus lihat lagi, apakah masih akan bagus atau tidak. Tetapi melihat kondisi tingkat suku bunga, rasanya mungkin kita tidak bisa terlalu optimis untuk semester kedua tahun ini,” katanya, Kamis (12/7/2018).

Berdasarkan data OJK, total emisi obligasi dan sukuk korporasi tahun lalu mencapai Rp156,71 triliun, atau merupakan rekor penerbitan tertinggi sepanjang sejarah. Rekor sebelumnya terjadi pada 2016 dengan Rp116,18 triliun.

Emisi pada semester kedua tahun lalu hampir dua kali lipat emisi pada semester pertamanya. Salyadi meragukan hal yang sama akan terulang tahun ini. Meski begitu, dirinya masih berharap realisasi emisi tidak akan jauh berbeda dibandingkan tahun lalu, atau setidaknya lebih tinggi dari 2016.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa tekanan eksternal yang terjadi sejak Mei tidak dapat dibendung dan sudah pasti menyebabkan meningkatnya biaya dana bagi emisi obligasi.

Dirinya menilai, kondisi ini akan sangat wajar menyebabkan kalangan emiten akan menahan diri untuk terburu-buru menerbitkan obligasi pada semester kedua tahun ini. Kalangan emiten juga harus berhitung ulang tentang rencana bisnis mereka dan mencocokan beban keuangan dan target-target kinerja.

Selain itu, kondisi makro ekonomi, terutama pelemahan rupiah, juga akan menghadirkan semakin banyak hambatan bagi korporasi untuk melancarkan rencana ekspansinya. Alhasil, gairah untuk menarik dana dari pasar modal agak cenderung terhambat pula.

“Dengan kondisi makro seperti ini, korporasi pasti akan menghitung ulang. Munkin mereka harus menunda atau menurunkan target emisi. Beberapa emiten saya perhatikan terpaksa sudah menurunkan size emisi karena pasar juga agak hati-hati, meskipun capaiannya masih sekitar 70%-80% dari target,” katanya.

Salah satu emiten yang menurunkan size penerbitan obligasi pada semester pertama tahun ini yakni PT PP Properti Tbk. Dari target emisi Rp1 triliun, emiten dengan kode PPRO ini hanya mengantongi permintaan RP665,5 miliar.

Namun, hal ini erat terkait dengan terbatasnya masa penawaran obligasi perseroan pada Juni lalu akibat libur lebaran.

Rhamdan mengatakan, umumnya penerbitan obligasi korporasi didominasi oleh sektor perbankan dan pembiayaan. Namun, akhir-akhir ini perusahaan dari kedua sektor tersebut cenderung lebih menahan diri untuk terbitkan obligasi.

Pefindo menunjukkan mandat pemeringkatan untuk penerbitan masih didominasi bank dengan 10 perusahaan dan rencana emisi Rp18 triliun, atau 27,45% dari total mandat Rp65,57 triliun.

Namun, di posisi kedua bukan lagi sektor finansial, melainkan ketenagalistrikan 9,91% senilai Rp6,5 triliun dan konstruksi 8,46% senilai Rp5,55 triliun.

Tag : obligasi korporasi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top