Penjualan Naik, Prospek Emiten Semen Membaik

Sejumlah emiten semen membukukan pertumbuhan penjualan semen di atas pertumbuhan nasional pada semester I/2018 sejalan dengan perluasan pangsa pasar serta permintaan dari pembangunan proyek infrastruktur.
M. Nurhadi Pratomo | 13 Juli 2018 17:36 WIB
Truk mengangkut semen - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten semen membukukan pertumbuhan penjualan semen di atas pertumbuhan nasional pada semester I/2018 sejalan dengan perluasan pangsa pasar serta permintaan dari pembangunan proyek infrastruktur.

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan PT Kresna Securities melalui Bloomberg, total penjualan semen di dalam negeri mencapai 30,05 juta ton pada semester I/2018. Jumlah tersebut naik 3,58% dari periode sebelumnya sebanyak 29,01 juta ton.

Secara keseluruhan, pertumbuhan penjualan tertinggi terjadi di Kalimantan dengan 8,4% disusul Sumatra 7,1%, Sulawesi 4,0%, dan Jawa 2,3%.

Dari sisi produsen, Kresna Securities mencatat penjualan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tumbuh 5,94% secara tahunan pada semester I/2018. Tercatat, emiten berkode saham INTP itu membukukan kenaikan dari 7,40 juta ton menjadi 7,84 juta ton.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Tunggal Prakasa Antonius Marcos mengatakan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi masih menjadi pangsa pasar utama perseroan selama semester I/2018. Selain itu, terjadi peningkatan pangsa pasar di wilayah Jawa Tengah. “Penjualan di Jawa Tengah kurang lebih tumbuh 2%,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (13/7).

Marcos menyatakan optimistis kinerja penjualan akan lebih baik pada semester II/2018. Hal itu sejalan dengan faktor politik yang diprediksi lebih kondusif usai pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) serta program relaksasi skema loan to value dari Bank Indonesia.

“Relaksasi loan to value dapat mendorong kemudahan pembiayaan sektor properti sehingga kami harapkan konsumsi semen akan meningkat,” paparnya.

Sebagai catatan, INTP membidik pertumbuhan penjualan di kisaran 6%-7% pada 2018. Proyeksi tersebut sesuai dengan target pertumbuhan penjualan semen secara nasional tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2018, pendapatan INTP hanya tumbuh tipis 1,87% menjadi Rp3,43 triliun pada periode tersebut. Sebaliknya, beban usaha tercatat naik 10,85% secara tahunan.

Andreas Kristo Saragih, analis Kresna Securities memproyeksikan volume penjualan semen akan lebih besar pada semester II/2018 dibandingkan dengan semester I/2018. Pasalnya, jumlah hari kerja lebih panjang pada periode tersebut.

Secara tahunan, dia memproyeksikan konsumsi semen domestik tumbuh 9% secara tahunan pada 2018. Salah satu pendorong pertumbuhan tersebut yakni pesanan dari kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Proyek konstruksi lebih intens pengerjaannya pada semester II dibanding semester I,” jelasnya.

Andreas masih menjadikan saham INTP sebagai top picks untuk sektor emiten semen. Target harga jangka panjang berada di level Rp15.900 per saham dengan potensi kenaikan 17,7%.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham INTP, SMBR, SMGR, SMCB kompak mendarat di zona merah pada sesi penutupan perdagangan, Jumat (13/7). Koreksi paling dalam dialami oleh SMGR dengan 175 poin atau 2,36% ke level Rp7.250 per saham.

Sementara itu, saham INTP terkoreksi 100 poin atau 0,73% ke level Rp13.675 per saham. Adapun, harga saham SMBR melemah 40 poin atau 1,18% ke level Rp3.360 per saham.

Tag : kinerja emiten
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top