Data Ekonomi AS Angkat Dolar, Rupiah Tembus 14.415

Rupiah ditutup melemah 5 poin atau 0,03% di level Rp14.390 per dolar AS, setelah dibuka juga dengan pelemahan 30 poin atau 0,21% di posisi Rp14.415.
Aprianto Cahyo Nugroho | 12 Juli 2018 16:59 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berakhir melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (12/7/2018).

Rupiah ditutup melemah 5 poin atau 0,03% di level Rp14.390 per dolar AS, setelah dibuka juga dengan pelemahan 30 poin atau 0,21% di posisi Rp14.415.

Adapun pada perdagangan Rabu (11/7), rupiah berakhir melemah 0,13% atau 18 poin di level 14.385. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.380 –Rp14.445 per dolar AS.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setaiaatmadja mengungkapkan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin (bps) untuk meredakan tekanan pada rupiah.

“Untuk meningkatkan stabilitas rupiah, kita butuh kenaikan 50 bps setiap The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps,” ungkap Jahja, seperti dikutip Bloomberg.

Rupiah melemah di saat pergerakan mata uang di Asia cenderung variatif sore ini, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 0,51%, disusul yen Jepang dengan pelemahan 0,36%. Adapun yuan Offshore China menguat paling tajam sebesar 0,55%, disusul rupee India yang menguat 0,30%.

Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,06% atau 0,055 poin ke level 94,774 pada pukul 15.59 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar dibuka turun tipis 0,017 poin atau 0,02% di posisi 94,702, setelah pada perdagangan Rabu (11/7), berakhir menguat 0,60% atau 0,561 poin di level 94,719.

Dilansir Reuters, indeks dolar AS menguat menyusul rilis data inflasi AS yang memperkuat kembali ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali lebih lanjut tahun ini.

Saat pasar finansial tetap dihantui oleh kekhawatiran perang perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, fokus investor beralih pada data harga produsen yang sedikit lebih kuat dari perkiraan yang sekaligus mendorong kepercayaan terhadap negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Para investor selanjutnya menantikan rilis data inflasi konsumen AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kapan dan seberapa cepat The Fed akan menaikkan suku bunga.

“Data inflasi konsumen bisa kuat karena harga minyak telah tinggi, sehingga dapat menyebabkan lebih banyak dukungan untuk dolar,” kata Minori Uchida, kepala strategi mata uang di MUFG Bank, dikutip Reuters.

“Namun harga minyak sudah mulai turun, dan saya tidak berpikir suku bunga jangka panjang akan naik sebanyak itu. Itu berarti saya pikir dukungan untuk dolar tidak akan terus berlanjut bahkan jika dolar dibeli,” tambahnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top