Rekomendasi Obligasi: Investor Disarankan Wait and See

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi masih akan dibuka dengan potensi bervariasi, ditambah dengan tekanan jual yang terus menghantui pergerakan harga obligasi.
Emanuel B. Caesario | 12 Juli 2018 09:36 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi masih akan dibuka dengan potensi bervariasi, ditambah dengan tekanan jual yang terus menghantui pergerakan harga obligasi.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa penurunan yang terjadi kemarin masih dalam batas toleransi, sehingga tidak melewati batas resistance yang sebelumnya telah terlewati.

Namun, memang tidak bisa dipungkiri bahwa tekanan jual masih amat sangat kental saat ini. Secara teknikal analisis, Nico melihat bahwa harga obligasi masih inline dengan trend menurun. Hal inilah yang mengindikasikan bahwa harga obligasi masih kesulitan untuk menguat.

Fokus selanjutnya adalah berita dari Amerika yang telah mengumumkan kembali pengenaan tarif dagang bagi China senilai US$200 miliar.

"Kami merekomendasikan wait and see hari ini, karena secara imbal hasil, obligasi 5 tahun dan 10 tahun sudah mulai menunjukkan tanda tanda kenaikan yield, tetapi imbal hasil obligasi 15 tahun dan 20 tahun masih dalam trend penurunan dalam jangka pendek," katanya dalam riset harian, Kamis (12/7/2018).

Menurutnya, kenaikkan atau penurunan lebih dari 65 bps akan menjadi arah obligasi hari ini.

Sementara itu, pada perdagangan kemarin, total transaksi dan frekuensi turun drastis dibandingkan hari sebelumnya di tengah turunnya harga obligasi kemarin.

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi kurang dari 1 tahun, diikuti dengan 7 – 10 tahun dan 10 – 15 tahun, sisanya merata disemua tenor hingga 25 tahun.

Nico mengatakan, pasar obligasi kemarin terlihat terpleset setelah kenaikkan harga obligasi berlangsung selama sepekan kemarin.

Hal yang menarik adalah penurunan ini terjadi ditengah tengah Bank Indonesia melakukan intervensi kemarin.

"Sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya, bahwa ternyata pasar obligasi mengalami penurunan setelah Bank Indonesia masuk sebesar Rp60,5 triliun untuk menjaga likuiditas," kata Nico.

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top