OPEC Janji Tambah Pasokan untuk Imbangi Pasar

OPEC dan sekutunya akan berusaha untuk menyeimbangkan kemerosotan pasokan minyak yang mengetatkan pasokan dan harganya, tetapi tidak akan bertindak secara berlebihan.
Mutiara Nabila | 10 Juli 2018 18:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – OPEC dan sekutunya akan berusaha untuk menyeimbangkan kemerosotan pasokan minyak yang mengetatkan pasokan dan harganya, tetapi tidak akan bertindak secara berlebihan.

Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al-Mazrouei mengatakan bahwa organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) tidak akan berlebihan terkait dengan penambahan kuota produksi minyak setelah didesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menambah pasokan dan mengurangi kebijakan pemangkasan produksinya sehingga harga minyak bisa kembali turun.

“Sangat penting untuk menghindarkan pasar untuk kembali ke posisi kelebihan pasokan yang memicu penurunan harga. Tidak adil apabila mengatakan OPEC tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” ujar Al Mazrouei, dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/7).

Al-Mazrouei menambahkan bahwa ada faktor lain yang tidak dapat dikendalikan oleh OPEC seperti masalah geopolitik dan jumlah yang dikeluarkan oleh pengeboran minyak Kanada.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati nilainya yang terlihat pada tiga tahun lalu karena ada gangguan pasokan dari Kanada dan Libya, bersamaan dengan kemerosotan produksi minyak di Venezuela dan permintaan AS pada sekutunya untuk berhenti mengimpor minyak dari Iran.

Hal tersebut kemudian membayangi janji OPEC dan sekutunya untuk menambah kuota minyaknya sebesar 1 juta barel per hari. Lonjakan harga saat ini membuat Trump berkicau lewat akun twitternya pada 4 Juli lalu yang mengatakan bahwa OPEC tidak memberi banyak bantuan dan mendesak kelompok tersebut untuk segera menurunkan harga minyak.

Sehari setelahnya, produsen negara Arab Saudi menurunkan harga untuk pengiriman minyak Agustus untuk hampir semua jenis minyak di Asia dan Eropa dan seluruh jenis minyak yang dikirimkan ke AS.

Kerajaan Saudi juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menaikkan hasil produksi minyak hariannya hingga sekitar 500.000 barel pada Juni.

“Kami memerlukan waktu untuk membawa minyak tersebut turun ke pasar,” tambah Al-Mazrouei tentang tambahan pasokan.

“Saat para konsumen kami berbicara, kami mendengarkan, kami mendengar permintaan AS, China, dan juga India.”

Analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra menyatakan bahwa kenaikan harga minyak pada perdagangan Selasa (10/7) belum terlalu signifikan.

“Kita masih menunggu data stok minyak Amerika Serikat yang dirilis API besok, penguatan saat ini masih karena ekspektasi kenaikan permintaan secara global yang akan mengimbangi jumlah suplai,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (10/7).

Menurut Putu, pergerakan dolar AS belakangan ini juga tidak terlalu memberikan pengaruh. Dia menuturkan bahwa penguatan minyak saat ini akan terbatas hingga data API muncul yang kemungkinan menunjukkan penurunan stok minyak AS, sehingga harga minyak WTI kemungkinan bisa berada di posisi US$75 per barel.

Terkait dengan proyeksi sejumlah perusahaan yang mengatakan bahwa harga minyak akan mencapai US$150 per barel, Putu menilai tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

“Lonjakan hingga US$150 per barel agak sulit, untuk beberapa tahun kedepan belum akan terjadi, karena permintaannya meskipun kuat tapi masih bisa dipenuhi, sementara OPEC juga masih melakukan pembatasan produksi meskipun kuotanya sudah dinaikkan. Kalau harga minyak terus menguat saya rasa OPEC pasti akan menambah lagi produksinya.”

Putu memproyeksikan harga minyak WTI sepekan kedepan berada pada kisaran antara US$72 – US$75 per barel.

Tag : opec
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top