Peringkat Asean Corporate Governance, Rangking RI Didorong 5 Emiten

Peringkat Asean Corporate Governance Scorecard (ACGS) Indonesia pada 2017 mengalami peningkatan menjadi 70,59 dari 62,88 pada 2015. Kenaikan ini terutama didorong oleh lima emiten.
Hafiyyan | 10 Juli 2018 14:18 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA–Peringkat Asean Corporate Governance Scorecard (ACGS) Indonesia pada 2017 mengalami peningkatan menjadi 70,59 dari 62,88 pada 2015. Kenaikan ini terutama didorong oleh lima emiten.

Corporate Governance Expert yang ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan untuk mewakili Indonesia di Forum ASEAN Corporate Governance, Angela Simatupang, memaparkan ada lima emiten yang mendapat skor tertinggi dari penilaian terhadap 100 perusahaan berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kelima emiten yang mendapat skor ACGS tertinggi adalah PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) dengan skor 109,61 poin, PT CIMB Niaga Tbk. (CIMB) 109,38 poin, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) 105,63 poin.

Selanjutnya, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) 104,27 poin dan PT Jasa Marga Tbk dengan skor 100,29 poin. Dari 5 emiten yang memiliki skor 100 ke atas, empat di antaranya memiliki kapitalisasi pasar di bawah Rp 50 triliun.

“Hasil penilaian menunjukkan bahwa tingkat praktik tata kelola yang baik dan pengungkapan lebih dipengaruhi oleh sikap dari manajemen puncak perusahaan dibandingkan ukuran perusahaan sendiri,” paparnya, Senin (9/7/2018).

Angela menuturkan, kemajuan lain yang dialami Indonesia adalah meningkatnya jumlah emiten atau public listed companies (PLC) yang berhasil masuk daftar Top 50 ASEAN menjadi 4 perusahaan pada 2017 dari 2 emiten pada 2015. Selain itu, pada tahun ini juga terdapat 6 emiten lokal yang berhasil masuk ke dalam jajaran Top 70 ASEAN.

Dia memaparkan, penilaian corporate governance terhadap 100 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut sudah mewakili 86,3% dari total kapitalisasi pasar BEI per 31 Maret 2018 dan 18,7% dari jumlah emiten di Indonesia.

Peringkat ACGS Indonesia ini akan digabungkan dengan peringkat ACGS dari masing-masing negara yang akan diumumkan oleh Asian Development Bank (ADB) pada kuartal III/2018.

Setiap expert corporate governance dan domestic ranking bodies di setiap negara bekerja melakukan assessment setelah ditunjuk oleh masing-masing otoritas pengawas jasa keuangan (financial services authority).

Penilaian ACGS terhadap 100 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar tiap negara menggunakan metodologi yang sama. Lima aspek penilaian yang menjadi indikator adalah hak pemegang saham, perlakuan yang adil terhadap pemegang saham, peran pemangku kepentingan, pengungkapan dan transparansi, dan tanggung jawab dewan komisaris.

Dengan demikian, akan diketahui posisi peringkat corporate governance tiap negara ASEAN dibandingkan negara-negara lainnya. Sebagai informasi, Thailand sejak 2013 menempati peringkat pertama, disusul Malaysia (peringkat kedua 2013 dan 2014) dan Singapura (peringkat kedua 2015).

Angela menuturkan, hasil penilaian tahun ini terhadap 100 PLC Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan pada tiga aspek, yakni pertama, hak pemegang saham. PLC telah mengungkapkan praktiknya untuk mendorong pemeganng saham lebih terlibat di perusahaan di luar RUPST.

Kedua, peran pemangku kepentingan. PLC secara eksplisit telah mengungkapkan kebijakan dan praktik terkait kesehatan keselamatan dan kesejahteraan bagi karyawannya. Ketiga, tanggung jawab dewan di mana PLC telah mengungkapkan pernyataan visi dan misi yang telah diperbaharui.

Tag : kinerja emiten
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top