Perang Dagang AS–China & Isu Timur Tengah Pacu Harga Emas

Perang Dagang AS China Dan Isu Timur Tengah Turut Menguatkan Harga Emas
Mutiara Nabila | 09 Juli 2018 16:34 WIB
Harga emas berjangka naik di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas melonjak setelah dolar Amerika Serikat melemah disertai ancaman dari perang dagang setelah AS menerapkan tarif pada impor China senilai US$34 miliar yang mulai belaku pada Jumat lalu.

Menteri Perdagangan China menuturkan bahwa pihaknya akan melakukan retaliasi dengan tarif sebesar 25% pada impor AS senilai US$34 miliar.

Pada Senin (9/7) pukul 13.30 WIB, harga emas spot diperdagangkan pada posisi US$1.261,53 per troy ounce, naik 6,05 poin atau 0,48% dari sesi perdagangan sebelumnya. Harga emas spot mencatatkan penurunan 3,17% secara year-to-date (ytd).

Adapun, harga emas Comex juga mengalami lonjakan sebanyak 6,90 poin atau 0,55% menjadi US$1.262,70 per troy ounce dan turun 3,56% sepanjang tahun berjalan.

Dolar AS anjlok pada Jumat setelah merilis data yang menunjukkan bahwa tingkat pengangguran AS meningkat dan pertumbuhan kenaikan pendapatannya pada Juni lebih rendah dari perkiraan setelah perekonomian AS membentuk lebih banyak lapangan kerja dari yang diperkirakan.

Meskipun mengalami kenaikan yang cukup signifikan, selain karena pelemahan dolar AS yang memang biasanya akan mendorong harga emas, harga logam mulia yang dihargai dengan dolar AS itu masih dianggap tetap lebih murah di mata pada investor dari luar AS.

“Para trader sangat khawatir jika bicara soal emas. Aksi harga intraday menunjukkan sentimen bullish dan punya potensi akan membawa harga emas menuju US$1.280 per troy ounce dalam beberapa hari ke depan jika dolar AS masih terus melemah,” ujar Naeem Aslam, Kepala Analis pasar ThinkMarkets, dilansir dari Investing.com, Senin (9/7).

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim menuturkan bahwa adanya perlawanan dari China pada perang tarif dagang pada Jumat lalu memang bisa membuat dolar AS kembali melemah.

“Pelemahan dolar AS kemungkinan indeksnya berada di posisi 93,70. Artinya ada kesempatan harga emas bisa ikut menguat, walaupun penguatannya tidak besar,” ujarnya pada Bisnis beberapa waktu lalu.

Ibrahim memproyeksikan bahwa harga emas meskipun menguat masih tetap akan bergerak di bawah US$1.300 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan, Ibrahim menuturkan bahwa harga emas bisa naik hingga ke kisaran posisi US$1.270-an per troy ounce.

Sejak empat bulan belakangan harga emas terus mengalami kemerosotan karena adanya prospek kenaikan suku bunga AS yang kemungkinan akan menguatkan dolar AS dan masalah geopolitik.

“Ada letupan yang bisa mengangkat harga emas, yakni Iran dan Arab Saudi yang sampai saat ini masih bersitegang, karena kita melihat bahwa setelah AS menarik diri dari perjanjian nuklir Iran, menyebabkan peperangan geopolitik semakin memanas. Ada 3 negara yang berlawanan sehingga menambah ketegangan di Timur Tengah, faktor ini yang kemungkinan bisa mendorong harga emas untuk menembus US$1.300an.”

 

Tag : Harga Emas Hari Ini, komoditas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top