Moody's Tegaskan Peringkat PGN di Baa2

Lembaga pemeringkat internasional Moodys Investors Service menegaskan peringkat penerbit dan surat utang senior tanpa jaminan dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) di posisi Baa2.
Hafiyyan, Kahfi | 09 Juli 2018 17:16 WIB
Petugas PT Perusahaan Gas Negara Tbk memeriksa Regulator System di Bogor, Jawa Barat, Kamis (28/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service menegaskan peringkat penerbit dan surat utang senior tanpa jaminan dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) di posisi Baa2.

Wakil Presiden dan Analis Senior Moody Abhishek Tyagi menyampaikan, PGAS atau PGN sudah mengumumkan akuisisi 51% saham PT Pertamina Gas dari PT Pertamina (Persero) membutuhkan dana Rp16,6 triliun. Menyusul pengumuman tersebut, Moody mengafirmasi peringkat PGN tetap di posisi Baa2 dengan outlook stabil.

PGN bermaksud mendanai sebagian akuisisi melalui utang baru, dengan saldo kas per Maret 2018 senilai US$1,19 miliar. Pertamina dan PGN akan membahas lebh lanjut mengenai rencana akuisisi 49% sisa saham Pertagas.

“Penegasan peringkat PGN mencerminkan ekspektasi kami bahwa tambahan utang untuk akuisisi Pertagas akan membebani keuangan perusahaan, tetapi masih dalam level yang dapat ditoleransi,” paparnya.

Moody mengestimasi leverage keuangan PGN— yang diukur dengan saldo arus kas atau retained  cash  flow (RCF) per arus kas disesuaikan— dalam beberapa tahun ke depan akan melampaui level toleransi 9%-12%.

Ekspektasi rating Baa2 juga menggambarkan prospek pendapatan yang konsisten mengikuti pengenaan tarif distribusi gas. PGN pun menjadi satu-satunya operator transmisi dan distributor gas di Indonesia.

“Peringkat dari kami mencerminkan fakta posisi pasar gas PGN di sektor hulu dan hilir kian menguat setelah akuisisi,” ujar Tyagi.

Setelah akuisisi, jaringan pipa gas PGN akan meningkat 30%. Hal ini akan meningkatkan sinergi industri gas, seperti penghematan biaya operasi dan belanja modal.

Tyagi menyampaikan, PGN akan mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia (Baa2 stabil) melalui Pertamina (Baa2) sehingga memungkinkan perusahaan membuat keputusan yang bersifat strategis.

Namun demikian, peringkat terhadap PGN bisa menurun jika jumlah utang per kapitalisasi melebihi 60%-65%. Selain itu, peringkat perusahaan dipertimbangkan jika RCF per arus kas disesuaikan jatuh di bawah 9%-12%.

“Peringkat terhadap PGN juga dapat mengalami tekanan jika penetapan tarif dsitribusi gas menyebabkan volatilitas terhadap arus kas perusahaan,” ujarnya.

Arandi Ariantara, Analis Senior PT Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan PGN tidak akan kesulitan dalam mencari pendanaan eksternal sekitar Rp11,06 triliun untuk menuntaskan pembelian mayoritas saham Pertagas. 

"PGN itu nett gearing ratio-nya hanya 43% di 2017 belum mencapai 100% atau 1 kali. Ketika dia meminjam US$800 juta dolar, itu nett gearing-nya hanya bertambah ke 91% atau tetap tidak sampai 1 kali sehingga kalau dia mau meminjam saja dari bank, itu masih kuat," jelas Arandi.

Ia menambahkan, selain itu PGN juga melakukan bisnis dalam denominasi dolar AS sehingga gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar, tidak berpengaruh pada pembukuan PGN.

"Jadi PGN bisa pinjam dalam denominasi dolar. Mau naik turun rupiah tidak berpengaruh ke mereka," katanya.

Tag : kinerja emiten, pgas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top