Pemerintah Upayakan Kepemilikan Asing di SBN Beralih ke Investor Domestik

Bisnis.com, JAKARTA Pemerintah terus meracik sejumlah formula untuk mendorong tumbuhnya dana tabungan agar masuk memenuhi surat berharga negara atau SBN yang saat ini sekitar 40% kepemilikan di tangan asing.
Ipak Ayu H Nurcaya | 03 Juli 2018 17:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah terus meracik sejumlah formula untuk mendorong tumbuhnya dana tabungan agar masuk memenuhi surat berharga negara atau SBN yang saat ini sekitar 40% kepemilikan di tangan asing.

Hal itu dilakukan untuk memenuhi harapan dalam 5 tahun ke depan porsi kepemilkan utang akan sepenuhnya terganti dengan domestik.

Direktur Strategis dan Portofolio Utang Kementerian Keuangan Schneider Siahaan mengemukakan kuncinya adalah konsisten menjaga defisit yang rendah dengan dibarengi pemupukan dana domestik yang tinggi.

Pemupukan dana itu pun tengah digenjot melalui berbagai skema. Pertama, meneruskan program sistem jaminan sosial nasional yang tepat guna dan sasaran.

Kedua, melalui pematangan dan pemberlakuan sistem baru dana pensiun bagi Aparatur Sipil Negara atau ASN, TNI, dan Polri yang ditargetkan mulai efektif pada 2020.

Adapun bocoran skema baru yakni pemerintah akan mengintegrasikan lembaga yang saat ini mengelola jaminan pensiun ASN yakni PT Taspen dengan lembaga baru yang menjamin investasi, keamanan investasi, dan manfaat investasinya. Pemerintah akan mengubah skema pay as you go menjadi fully funded.

Ketiga, melalui Tabungan Perumahan Rakyat atau Tapera yang akan menghimpun dana rutin dari para pekerja untuk membeli hunian.

Pemerintah memastikan melalui program ini, akan berpotensi menggandakan dana hingga Rp40 triliun dalam 2 tahun berjalan. Melalui Badan Pengelola Tapera, program ini akan berjalan dengan dana awal dari Bapertarum-PNS sekitar Rp11,4 triliun.

Teknis nantinya Tapera akan mewajibkan iuran pekerja hingga 3% dari gaji per bulan. Dengan komposisi dari penerima gaji 2,5% dan dari pemberi kerja 0,5%. Program ini sudah disahkan dengan payung hukum UU Nomor 4/2016 tentang Tapera.

Schneider mengemukakan komponen mobilisasi dana lokal tersebut akan dipercepat sehingga sedikit demi sedikit mengurangi dan menghabiskan porsi kepemilikan asing.

"Masalah kita kan selama ini pengembangan dana-dana ini lambat padahal masih jadi komponen utama dari pensiun dan asuransi. Jadi kalau ini jalan terawang kami dalam 5 tahun lah SBN akan dimiliki penuh oleh domestik" katanya, Selasa (3/7/2018).

Schneider menambahkan dengan kepemilikan domestik yang kuat maka akan menjadi alat ketahanan goncangan global yang penuh ketidakpastian.

Sementara untuk saat ini, menurutnya, penyesuaian pada era normal yang baru masih harus diantisipasi hingga 2019. Meski masih banyak peluang keuntungan yang bisa didapat Indonesia dari kondisi ini.

"Kita akan lihat masih sampai 2019, ini hanya kembalinya modal untuk cari posisi untung, sekarang AS tarik dari emerging karena Eropa atau Jepang juga belum pulih, modusnya cari untung, sesederhana itu lama-lama juga akan balik. Ini proses adjusment portofolio, masalah modal saja kalau fundamental kita bagus," ujarnya.

Adapun narasi dari keluarnya dana asing, otomatis akan menggantikan rupiah. Efeknya return yang dibayar asing jadi ke dalam. Sehingga dalam neraca pembayaran komponen primary account akan menurun. Lalu, meski ada capital outflow dalam neraca, tetap akan aman karena ada pengurangan defisit yang ditambah pengurangan impor.

Koreksi ini, tidak boleh dianggap seolah-olah dunia kiamat sebab, hanya proses adjusment sehingga dalam prosesnya masing-masing hanya harus mengerjakan bagianya saja.

"Strategi kami, maksimalkan lelang gimana caranya ya udah test saja, dapetnya berapa yang domestik, selanjutnya akan kami hitung ulang," kata Schneider.

Tag : sbn
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top