PROYEKSI PASAR SAHAM SEMESTER II: Pelemahan Indeks Berpotensi Berlanjut?

Koreksi yang terjadi pada IHSG sepanjang paruh pertama tahun ini diproyeksikan masih akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini, mengingat dinamika eksternal yang menjadi faktor utama koreksi indeks masih cukup bergejolak.
Emanuel B. Caesario | 02 Juli 2018 07:24 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA—Koreksi yang terjadi pada IHSG sepanjang paruh pertama tahun ini diproyeksikan masih akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini, mengingat dinamika eksternal yang menjadi faktor utama koreksi indeks masih cukup bergejolak.

Secara umum, sejumlah analis sepakat bahwa koreksi yang terjadi pada IHSG sepanjang semester pertama tahun ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal, khususnya sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Jason Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa IHSG mulai mengalami koreksi setelah mencapai puncaknya di level 6.689 pada kuartal pertama. Saat itu, valuasi IHSG sudah sangat mahal, dengan tingkat price earning ratio (PER) disetahunkan untuk 2018 sebesar 17,8 kali.

Posisi IHSG pada 2015 lalu masih di level 4.593, tetapi tahun ini memuncak hingga 6.689, atau tumbuh hampir mencapai 50% dalam periode yang singkat. Hal ini mendorong investor asing mulai merealisasikan keuntungannya.

Seiring dengan itu, The Fed juga mulai agresif menaikan suku bunganya, sementara presiden Trump menurunkan pajak korporasi dari 35% ke 21% sehingga memperkuat alasan investor asing untuk melakukan repatriasi dana ke Amerika Serikat dan dollar menjadi sangat menguat.

Ditambah lagi sentimen perang dagang yang semakin mengencang dengan China, pelemahan mata uang rupiah menjadi tidak terhindarkan. Hal tersebut memaksa Bank Indonesia menyesuaikan suku bunga.

Jason mengatakan, menghadapi sentimen eksternal ini IHSG masih terbuka pada peluang koreksi hingga ke level 5.600-5.500, meskipun sebelumnya mungkin menguat dulu ke level 5.800. Meski begitu, dirinya percaya IHSG masih dapat kembali menguat.

Menurutnya, peluang peningkatan IHSG didukung oleh nilai dolar yang sudah overvalue, padahal AS sendiri tengah mengalami current account deficit yang besar, budjet defisit yang akut, dan jumlah utang berbanding GDP mendekati 100%.

“Sementara itu, real interest rate US juga tidak menarik dibandingkan Indonesia dan emerging market lainnya. Ini yang membuat saya optimis ISHG bisa balik lagi ke 6.000 – 6.050 dan IDR mencapai Rp13.900 di akhir tahun,” katanya, Jumat (29/6/2018).

Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas, mengatakan bahwa selain faktor repatriasi dan profit taking investor, tahun ini juga terjadi banyak perubahan dalam dinamika politik dan ekonomi, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Di dalam negeri, Indonesia mulai mengalami gejolak jelang pilpres tahun depan. Selain itu, baik bank sentral Indonesia maupun Amerika Serikat juga mengalami pergantian kepemimpinan. Ditambah panjangnya libur lebaran di Indonesia dan meningkatnya ketidakpastian global, investor menjadi cenderung lebih memilih berfokus pada negara maju dari pada negara berkembang.

Frederik melihat kondisi ini masih akan berlanjut pada semester kedua mendatang. Menurutnya, IHSG masih berpeluang kembali mengalami koreksi hingga ke level 5.600. Level tersebut dipilih dengan pertimbangan level tersebut merupakan level awal IHSG ketika merespon kenaikan peringkat Indonesia oleh S&P pada pertengahan 2017 lalu.

Potensi peningkatan mungkin saja ada, tetapi hal tersebut akan sangat bergantung pada pengumuman kinerja perekonomian kuartal kedua. Bila asumsi peningkatan konsumsi selama Ramadhan memberikan efek yang signifikan terhadap ekonomi, hal tersebut boleh jadi akan menjadi landasan bagi investor untuk kembali percaya diri terhadap pasar Indonesia.

“Kalau konsumsi kita pick up yang tercermin dari inflasi Juni dan laporan keuangan perusahaan ritel dan konsumer juga meningkat dobel digit, itu bisa mendukung IHSG kembali kuat ke level 6000,” katanya.

Dirinya juga menaruh harapan pada sektor komoditas dan agrikultur yang tengah mengalami peningkatan harga. Namun, mengingat tingginya curah hujan dan periode libur yang panjang pada kuartal kedua, dirinya menilai sektor ini baru akan terlihat geliatnya pada kuartal ketiga dan keempat.

Dari segi global, sentimen perang dagang AS dan China masih menyimpan potensi resiko yang besar terhadap pasar Indonesia, sedangkan dari dalam negeri pasar akan menyoroti pencapaian target-target pemerintah, khususnya penyelesaian proyek infrastruktur jelang pemilu.

Proyek infrastruktur yang tertunda tentu akan mengakibatkan estimasi biaya logistik akan tetap tinggi, sehingga berdampak terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Selain itu, pasar juga menunggu kelanjutan kebijakan suku bunga dari bank sentral dunia, terutama The Fed dan respon Bank Indonesia. Keputusan Bank Indonesia pekan lalu untuk menaikkan BI 7 Days Repo Rate 50 bps ke level 5,25% di satu sisi akan menolong stabilitas rupiah, tetapi di sini lain membuka potensi tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi.

Hal ini tentu akan berdampak terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan tentu saja kinerja pasar modal.

Frederik mengatakan, dalam kondisi seperti ini, dirinya merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see dalam waktu dekat, meningat banyaknya ketidakpastian. Sentimen perang dagang masih belum dapat dipastikan kelanjutannya dan bisa saja mengarah pada perang mata uang.

Sementara itu, bila kebijakan suku bunga sudah mengarah pada stabilitas, hal tersebu menjadi peluang bagi investor untuk kembali masuk ke pasar. Dirinya menyarankan investor untuk selektif memilih perusahaan besar dengan tingkat dividen yang tinggi dan harganya sedang terdiskon.

Secara sektoral, dirinya menyoroti sektor tambang yang mana harga fundamentalnya sedang meningkat seiring kenaikan harga komoditas, tetapi harga sahamnya justru mengalami penurunan. Dua emiten yang disorot yakni PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO).

Sementara itu, sektor konsumer akan menjadi pilihan menarik, tetapi dengan catatan kinerja kuartal kedua menunjukkan adanya pemulihan konsumsi masyarakat.

Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Sekuritas, sependapat bahwa pasar belum akan berhenti untuk turun, sebab sentimen negatif yang ada masih akan berlanjut. Sementara itu, dari dalam negeri belum ada sentimen positif baru yang mampu menopang pasar.

Kenaikan suku bunga BI 7DRR tentu akan berdampak pada kinerja ekonomi dan kinerja emiten. Alhasil, sangat wajar bila kenaikan suku bunga acuan akan diikuti oleh koreksi harga saham. Dirinya menyangsikan IHSG dapat kembali pulih hingga ke level awal tahun ini.

“Perkiraan saya, rentang indeks sampai akhir tahun mungkin ada di 5820 sampai 6208. Jadi, paling optimis hanya 6.208, saya benar-benar revise down target indeks sampai akhir tahun,” katanya.

Tag : IHSG, saham
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top