Inarno Siap Kawal Pasar Modal Dengan 3 Program

Inarno Djajadi resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Serah terima jabatan ini dilakukan bertepatan dengan pelaksanaan rapat umum pemegang saham (RUPS) BEI, Jumat (29/6/2018).
Tegar Arief | 29 Juni 2018 14:59 WIB
Inarno Djajadi mulai menjabat sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI). (istimewa)

Bisnis.com, JAKARTA -- Inarno Djajadi mulai menjabat sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Serah terima jabatan ini dilakukan bertepatan dengan pelaksanaan rapat umum pemegang saham (RUPS) BEI, Jumat (29/6/2018).

Inarno, yang sebelumnya juga menjabat sebagai salah satu Dewan Komisaris BEI akan memimpin pasar modal selama tiga tahun ke depan alias periode 2018-2021.
Sejumlah nama turut menemani Inarno untuk mengawal pasar modal, yakni I Gede Nyoman Yetna sebagai Direktur Penilaian Perusahaan, Laksono Widodo bertugas sebagai Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa.

Nama lain adalah Kristian Sihar Manuliang sebagai Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan, Fihtri Hadi sebagai Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko, hasan Fawzi sebagai Direktur Pengembangan, serta Risa Effennita Rustam sebagai Direktur Keuangan dan SDM.

Sebenarnya, secara resmi tanggungjawab itu diemban oleh Inarno sejak kemarin, saat BEI melangsungkan rapat umum pemegang saham (RUPS). Sekitar 30 menit usai RUPS ditutup, para direksi baru bursa langsung menjawab tantangan pasar.

Ada tiga program unggulan yang disiapkan oleh tim tersebut. Pertama mengembangkan produk baru, kedua meningkatkan jumlah perusahaan tercatat dan investor, serta ketiga meningkatkan transaksi dan likuiditas.

Ketiga poin ini diyakini akan mampu mendorong likuiditas emiten dan menarik kembali dana asing yang sempat keluar dari lantai bursa lokal di tengah tren penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Program pertama akan direalisasikan dengan penyediaan sarana perdagangan produk baru yang saat ini belum ditransaksikan melalui platform trading, dan penguatan straight through processing bersama pelaku dan SRO lain.

Sedangkan untuk poin kedua, direksi akan berupaya penuh untuk memaksimalkan privatisasi perusahaan pelat merah, baik di tingkat nasional maupun daerah. Banyaknya BUMN atau BUMD yang melantai di bursa diyakini akan mempercepat peningkatan investor.

"Ada banyak strategi, tapi yang utama kami melihat bahwa kita masih terkendala dengan jumlah investor dan perusahaan tercatat. Kita masih lemah di situ, dan akan kami konsentrasikan di situ," kata Inarno, Jumat (29/6/2018).

Tag : bursa efek indonesia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top