Penutupan Kilang Minyak di Kanada Bayangi Keputusan OPEC

Penutupan fasilitas penyulingan minyak di Kanada membalikkan kondisi pasar minyak dan menjatuhkan saham produsen yang bergantung pada jumlah kilang minyak.
Mutiara Nabila | 28 Juni 2018 21:39 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Penutupan fasilitas penyulingan minyak di Kanada membalikkan kondisi pasar minyak dan menjatuhkan saham produsen yang bergantung pada jumlah kilang minyak.

Setelah organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen sekutunya sepakat untuk memompa minyak dalam jumlah yang lebih banyak ke pasar global, tak lama muncul kabar adanya penutupan kilang minyak Syncrude, pengolah minyak mentah berat menjadi ringan untuk pasar AS.

Seiring dengan penurunan aliran minyak dari wilayah Utara, para trader harus membayar kenaikan harga minyak di pusat distribusi Cushing, Oklahoma. Pasalnya, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate di pasar global semakin menguat dengan selisih kian menyusut antarkeduanya.

Perusahaan Goldman Sachs Group Inc. menilai penutupan operasi kilang minyak Kanada tersebut sebagai peristiwa paling dramatis di pasar minyak, sebagai bagian dari perlawanan pada keputusan OPEC dalam pertemuannya di Wina pada pekan lalu.

Tim Pickering, pendiri dan Kepala Pelaksana Investasi di Auspice Capital Advisors mengatakan bahwa kilang Syncrude di Kanada memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan pasar minyak dunia.

“Kilang tersebut merupakan salah satu yang sudah berdiri dan memiliki sistem paling lama. Jadi, dengan produksi yang ditutup, akan memberikan dampak yang cukup besar,” ujarnya, dilansir dari Bloomberg, Kamis (28/6/2018).

Selanjutnya, tercatat bahwa saham yang dimiliki Suncor Energy Inc., yang mengawasi operasi kilang tersebut, anjlok ke level terendah selama lebih dari 2 tahun.
Fasilitas yang memproduksi minyak sebanyak 350.000 barel per hari itu merupakan salah satu yang terbesar dan terbaik di dunia dan akan kehabisan pasokan pada akhir Juli.

Sementara itu, perkiraan penyusutan pasokan minyak itu terjadi menyusul merosotnya persediaan di Cushing selama lima pekan berturut-turut.
Harga minyak AS yang menjadi patokan untuk pengiriman teraktif di perdagangan berjangka di New York Merchantile Exchange melonjak drastis hingga US$5,75 per barel pada Senin (25/6).

Sementara itu, desakan Arab Saudi yang meyakinkan anggota OPEC untuk menambah pasokan hingga 1 juta barel per hari telah memberikan tekanan pada perdagangan Minyak Brent di London. Di sisi lain, penyusutan stok di Kanada mendorong harga minyak AS.

Peristiwa tersebut disinyalir membantu mengurangi kesenjangan harga antara WTI dan Brent, setelah beberapa waktu selisih harganya melebar hingga US$12 per barel yang dampaknya justru membantu pembeli minyak dari seluruh dunia untuk menentukan apakah pengiriman minyak dari AS lebih baik daripada mengirim dari wilayah lain.

Pada perdagangan Kamis (28/6), harga minyak Brent berada pada posisi US$78,01 per barel. Sementara itu, harga WTI berada pada posisi US$72,65 per barel.
Di Kanada, penyusutan pasokan minyak merugikan saham Suncor, pemegang 59% dana pada operasi tersebut.

 

Sumber : Bloomberg

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top