Oso Sekuritas: IHSG Diprediksi Kembali Melemah di Level 5.801-5.899

Oso Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan melemah di kisaran 5.801 - 5.899.
Mia Chitra Dinisari | 26 Juni 2018 08:36 WIB
Mahasiswa berjalan di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Oso Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan melemah di kisaran 5.801 - 5.899.

Tim analis Oso Sekuritas menyebutkan hal tersebut terlihat dari IHSG masih bergerak downtrend dengan indikator Stochastic berada di area oversold, MACD histogram bergerak negatif dengan volume meningkat.

Pada perdagangan awal pekan (25/06), IHSG berhasil ditutup menguat 0,64% ke level 5.859,08. Enam dari sepuluh indeks sektoral berakhir dalam teritori positif, dimana sektor Barang Konsumsi dan Manufaktur memimpin penguatan masing-masing sebesar 2,94% dan 1,75%.

Adapun saham yang menjadi pemberat indeks diantaranya: GGRM, HMSP, TLKM, ICBP. BBCA Penguatan IHSG terjadi ditengah rilisnya data neraca perdagangan Indonesia bulan Mei 2018 yang kembali mengalami defisit US$ 1,52 miliar hal ini dikarenakan tingginya nilai Impor pada Mei 2018. Pelaku pasar asing membukukan aksinya jual bersih (Netsell) Sebesar Rp 815,49 miliar. Nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,52% ke level 14,159.

Sementara itu, indeks utama bursa AS kompak ditutup dalam teritori negatif pada perdagangan semalam (25/06). Indeks Dow Jones tertekan sebesar 1.33% ke level 24,252.80, S&P melemah sebesar 1.37% ke level 2,717.07 dan Nasdaq turun sebesar 2.09% ke level 7,532.01.

Pelemahan pada indeks terjadi seiring dengan ancaman lanjutan dari administrasi Trump terhadap mitra dagang AS yang kembali menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar
Selain itu, pelemahan indeks S&P lebih dikarenakan turunnya saham-saham disektor teknologi dan sektor konsumen yang memimpin kerugian lebih dari 2%.

Salah satu saham yang terkoreksi cukup dalam yaitu Carnival Corporation yang bahkan turun signifikan mencapai 7,9% pasca rilisnya laporan laba kuartalan yang dibawah perkiraan, dengan menurunkan jangkauan pada operator kapal pesiarnya.

Economic & Industry News
Kenaikan Harga Komoditas Menjadi Alasan Kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak Migas Dan Nonmigas yang Mencapai Rp 145 Triliun Atau 52,65% Dari Target APBN
Harga Komoditas Timah Melemah Seiring Perang Dagang AS Dan China Serta Peningkstsn Cadangan Timah Yang Melonjak Sekitar 155 Ton Menjadi 2,750 Ton
Pasar Obligasi Indonesia Berpotensi Rebound Pada Awal Semester Kedua Tahun Ini

Corporates News

Hingga September 2018 SDMU Targetkan Memperoleh Kontrak Hingga Rp 420 Miliar

SDMU Berencana Melakukan Private Placement Senilai Rp 30 Miliar

Pada Kuartal I 2018 Laba Bersih TPIA Turun 31,8% Menjadi US$ 73,14 Juta

MERK Berencana Membagikan Dividen Sebesar Rp 260 Per Saham

DVLA Akan Menambah Modal PT Etana Biotechnologies Indonesia Sebesar Rp 204,79 Miliar

SCMA Akan Membagikan Dividen Sebesar Rp 75 Per Saham

TINS Mendapatkan Peringkat idA+ Dari Pefindo

Hingga April 2018 BBTN Mencatatkam Undisburshed Loan Sebesar Rp 18,54 Triliun

BEI Suspensi Perdagangan TAXI Karena Belum Membayar Bunga Ke-16 Obligasi Tahun 2014

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top