Bendungan di Turki Bikin Petani Gandum Irak Kurangi Aktivitas Pertanian

Petani gandum di Irak, pembeli komoditas biji-bijian kedua terbesar di Timur Tengah, diprediksi harus mengurangi penanamannya untuk musim depan karena negeri tetangganya Turki tengah mengalihkan airnya dari sungai Tigris ke proyek listrik tenaga terbesarnya.
Mutiara Nabila | 25 Juni 2018 21:29 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Petani gandum di Irak, pembeli komoditas biji-bijian kedua terbesar di Timur Tengah, diprediksi harus mengurangi penanamannya untuk musim depan karena negeri tetangganya Turki tengah mengalihkan airnya dari sungai Tigris ke proyek listrik tenaga terbesarnya.

“Wilayah di Irak yang dapat ditanami gandum untuk masa panen 2018 – 2019 kemungkinan akan menurun hingga 50%,” ungkap Hameed Al-Nayef, juru bicara kementerian pertanian Irak, dikutip dari Bloomberg, Senin (25/6/2018).

Adapun, Wakil Menteri Pertanian Irak Mahdi Al-Qaisi menyebutkan, sebagai hasilnya, negara itu harus meningkatkan impor. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga memprediksikan akan adanya pengurangan impor untuk musim panen 2018–2019.

Al-Nayef menambahkan, proyek bendungan Ilisu milik Turki di sungai Tigris telah menuntun pemerintah Irak untuk mengurangi penanaman beras dan jagung pada musim yang dimulai pada Juli mendatang, karena kedua komoditas tersebut bergantung pada air dari irigasi.

Pembangunan bendungan Turki tersebut menambah masalah pengairan di Irak, yang sebagian besar negaranya cukup gersang, di mana sungai Tigris dan Euphrates memasok sebagian besar air segar yang digunakan dalam bidang pertanian. Kekeringan dan minimnya curah hujan membuat wilayah Persian Gulf menjadi tempat terkering di dunia.

Irak merupakan pengimpor gandum terbesar di Timur Tengah kedua setelah Mesir, melemah pada Minggu (22/6) hanya membeli 50.000 ton gandum dari AS, Kanada, dan Australia.

“Musim berikutnya akan lebih terdampak, karena bendungan Ilisu akan mulai diisi. Kami memperkirakan perencanaan pertanian akan terkena dampaknya” ungkap Al-Qaisi. Dia belum bisa menyebutkan besaran penurunan pada sektor pertanian, tetapi secara logika, sektor pertanan pasti akan mengalami kemunduran.

Al-Nayef mengatakan bahwa Irak kemungkinan harus melanjutkan impor komoditas jagung pada tahun depan. Irak saat ini memiliki persediaan jagung sekitar 100.000 ton, cukup untuk memenuhi permintaan hingga akhir tahun.

Kementerian Sumber Air Irak tidak mengalokasikan jumlah air yang cukup untuk seluruh pertanian Irak, sehingga kementerian pertaniannya harus mengurangi penanaman beras, jagung putih dan kuning, biji wijen dan bunga matahari, dan kapas.

Perdagangan berjangka jagung di Chicago telah mengalami kenaikan 0,71% sepanjang tahun ini dan gandum naik 12,70% selama tahun berjalan. Rusia, pengekspor gandum terbesar di dunia, diperkirakan akan memanen jumlah yang lebih sedikit pada tahun ini dan menjadi pertama kalinya dalam enam tahun.

Al-Nayef menyebutkan, Irak telah menanamkan 4 juta dunam atau setara dengan 988.421 akre gandum pada masa panen 2017 – 2018. Curah hujan yang tidak memadai akan menyebabkan jumlah panen semakin menyusut.

Amer Abdul Aziz, juru bicara Dewan Gandum Irak, menyebutkan bahwa Irak memulai panen gandumnya pada 15 April lalu dan seharusnya selesai pada akhir Juli atau Agustus.

USDA memperkirakan panen gandum Irak pada 2018 – 2019 akan sedikit mengalami perubahan menjadi 4 juta ton. Sementara itu, impornya akan berkurang hingga 3,6 juta ton dari 4,1 juta ton. Persediaan gandum Irak pada awal musim diperkirakan akan melonjak menjadi 1,3 juta ton dari sebelumnya 881.000 ton, mengurangi kebutuhan impornya.

Sumber : Bloomberg

Tag : gandum
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top