Pelemahan Dolar AS Dongkrak Rebound Rupiah

Nilai tukar rupiah sukses mempertahankan reboundnya dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (22/6/2018), didongkrak pelemahan dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 22 Juni 2018 18:44 WIB
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah sukses mempertahankan reboundnya dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (22/6/2018), didongkrak pelemahan dolar AS.

Rupiah ditutup menguat 16 poin atau 0,11% di Rp14.086 per dolar AS, setelah mulai rebound saat dibuka dengan apresiasi 2 poin atau 0,01% di Rp14.100.

Pada perdagangan Kamis (21/6), performa mata uang Garuda melorot dan berakhir melemah 170 poin atau 1,22% di posisi Rp14.102. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.064 – Rp14.108 per dolar AS.

Menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim, penguatan rupiah ditopang data eropa yang positif dan aksi balas China dalam perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) dengan memberlakukan tarif 25% untuk minyak mentah AS.

Seperti diketahui, bank sentral Inggris (Bank of England) tidak menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan Juni 2018, dan akan mempertimbangkan untuk mengerek BoE Rate pada rapat Agustus 2018.

Pemungutan suara dari pengambil kebijakan Bank of England mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga pada Agustus, seperti dikutip Reuters. Mata uang poundsterling pun menguat terhadap dolar AS di tengah peluang kenaikan suku bunga.

“Di sisi lain, pertemuan OPEC yang akan menaikan produksi 1 juta barel per hari akan menstabilkan harga minyak dunia secara global. Dari segi internal, BI terus mengawasi pergerakan harga rupiah dan devisa negara masih aman,” tambah Ibrahim kepada Bisnis.com saat dihubungi hari ini.

Bersama rupiah, mayoritas mata uang di Asia menguat petang ini, dipimpin won Korea Selatan sebesar 0,44% dan peso Filipina yang menguat 0,35%. Di sisi lain, baht Thailand yang melemah 1,9% memimpin depresiasi beberapa mata uang di Asia.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut melemah 0,24% atau 0,223 poin ke level 94,639 pada pukul 17.58 WIB.

Pergerakan indeks dibuka turun tipis 0,01% di level 94,849 pagi tadi, setelah berakhir melemah 0,28% atau 0,262 poin di posisi 94,862 pada perdagangan Kamis (21/6).

Dilansir dari Reuters, dolar AS lanjut melemah setelah turun dari level tertingginya dalam 11 bulan, akibat terbebani aksi profit taking dan pulihnya poundsterling setelah ekonom Bank of England (BoE) secara tak terduga mendukung kenaikan suku bunga.

Nilai tukar poundsterling terpantau lanjut menguat 0,30% terhadap dolar AS ke level US$1,3280 pada pukul 18.27 WIB, setelah berakhir menguat 0,52% di posisi 1,3240 pada perdagangan Kamis (21/6).

Mata uang Inggris ini pulih dari level terendah dalam tujuh bulan terakhir setelah kepala ekonom Bank of England, Andy Haldane, tiba-tiba bergabung dengan minoritas pembuat kebijakan yang menyerukan kenaikan suku bunga ke 0,75%, merujuk pada kekhawatiran tentang meningkatnya tekanan upah.

Sementara itu, indeks aktivitas Bisnis Atlantik Tengah oleh Federal Reserve wilayah Philadelphia turun ke level 19,9 pada Juni dari 34,4 pada Mei.

Hal ini meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi AS dan menyebabkan sejumlah pelaku pasar melakukan profit taking pada spekulasi dolar yang bullish.

“Pasar cukup sensitif terhadap data aktivitas bisnis akhir-akhir ini. Kami memang melihat beberapa kelemahan dalam dolar,” kata Brian Daingerfield, pakar strategi makro di NatWest Markets.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top