Poundsterling Menguat, Indeks Dolar Loyo

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang global, terpantau melemah 0,06% atau 0,054 poin ke level 94,808 pada pukul 7.53 WIB.
Aprianto Cahyo Nugroho | 22 Juni 2018 08:35 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (22/6/2018), setelah turun dari level tertinggi 11 bulan menyusul aksi profit taking dan pulihnya poundsterling, karena ekonom Bank of England secara tak terduga mendukung kenaikan suku bunga.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang global, terpantau melemah 0,06% atau 0,054 poin ke level 94,808 pada pukul 07.53 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar AS dibuka melemah 0,01% atau 0,013 poin di posisi 94,849, setelah pada perdagangan Kamis (21/6) ditutup merosot 0,28% atau 0,262 poin ke level 94,862.

Sementara itu, poundsterling terpantau menguat 0,14% terhadap dolar AS ke level US$1,3258 pada pukulk 8.03 WIB, setelah dibuka stagnan di posisi US$1,324 per pounsterling.

Dilansir Reuters, mata uang Inggris ini pulih dari level terendah dalam tujuh bulan terakhir setelah kepala ekonom Bank of England, Andy Haldane, tiba-tiba bergabung dengan minoritas pembuat kebijakan yang menyerukan kenaikan suku bunga ke 0,75%, mengutip kekhawatiran tentang meningkatnya tekanan upah.

Sementara itu, indeks aktivitas Bisnis Atlantik Tengah oleh Federal Reserve wilayah Philadelphia turun ke level 19,9 pada Juni dari 34,4 di bulan Mei, meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi AS dan menyebabkan sejumlah pelaku pasar melakukan profit taking pada spekulasi dolar yang bullish.

"Indeks Fed Philadelphia melesat. Itu adalah alasan yang nyaman bagi para pedagang untuk mengambil keuntungan," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions, seperti dikutip Reuters.

"Pasar cukup sensitif terhadap data aktivitas bisnis akhir-akhir ini. Kami memang melihat beberapa kelemahan dalam dolar," kata Brian Daingerfield, ahli strategi makro di NatWest Markets.

Tag : dolar as
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top