Kurs Rupiah Akhirnya Tembus Rp14.100 Usai Libur Lebaran

Nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya sekaligus menembus level Rp14.100 pada akhir perdagangan hari pertama pascalibur Idulfitri, Kamis (21/6/2018), di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 21 Juni 2018 19:02 WIB
Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Januari-Mei 2018. - Bisnis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya sekaligus menembus level Rp14.100 pada akhir perdagangan hari pertama pascalibur Idulfitri, Kamis (21/6/2018), di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Rupiah ditutup melemah 170 poin atau 1,22% di Rp14.102 per dolar AS, setelah dibuka dengan pelemahan 158 poin atau 1,13% di Rp14.090.

Pada perdagangan terakhir sebelum libur Idulfitri, Jumat (8/6), performa mata uang Garuda juga berakhir melemah sebesar 57 poin atau 0,41% di posisi Rp13.932. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp13.912 – Rp14.108 per dolar AS.

Mata uang Garuda menyentuh level penutupan terlemahnya dalam sekitar tiga pekan sekaligus kembali menembus level Rp14.100, level penutupan yang terakhir disentuh pada 25 Mei.

Rupiah memimpin pelemahan mayoritas mata uang di Asia petang ini, disusul won Korea Selatan sebesar 0,65%, dolar Taiwan dengan 0,56%, dan baht Thailand yang melemah 0,39% pada pukul 18.06 WIB.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut menguat 0,27% atau 0,258 poin ke level 95,382 pada pukul 17.55 WIB.

Pergerakan indeks dibuka cenderung flat di level 95,126 pagi tadi, setelah berakhir dengan kenaikan 0,12% atau 0,111 poin di posisi 95,124 pada perdagangan Rabu (20/6).

Menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mengakibatkan ketidakpastian ekonomi. Dengan demikian, dolar AS terus menguat dan semua harga komoditas yang berdenominasi dolar AS menjadi mahal.

Namun, dia memperkirakan pelemahan rupiah hanya berlangsung sesaat, mengingat Bank Indonesia (BI) kembali akan menggelar rapat dewan gubernur pada 27-28 Juni 2018.

“[Pelemahan rupiah hingga tembus 14.000] sesaat, karena BI minggu depan [diprediksi] kembali menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim kepada Bisnis.com.

Di samping itu, ujarnya, pasar juga menantikan keberlanjutan hubungan dagang antara AS dan China.

“Minggu ini, China dan AS akan melakukan negosiasi tahap [selanjutnya]. Semoga ini bisa positif untuk rupiah,” tambah Ibrahim.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya telah menyatakan bahwa BI siap mengambil langkah dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan, sebagai respons atas langkah kebijakan moneter terbaru dari bank sentral di AS dan Eropa.

“[Komentar Warjiyo] terdengar hawkish dan dalam pandangan kami, BI kemungkinan mempersiapkan pasar untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut,” tulis pakar strategi di Credit Agricole dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (13/6), telah menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 1,75% hingga 2,00%. Kenaikan tersebut merupakan langkah kenaikan suku bunga kedua pada 2018.

Kemudian pada Kamis (14/6), European Central Bank (ECB) memutuskan menahan tingkat suku bunga acuannya sebesar nol persen pada bulan ini.

Adapun dalam sebulan terakhir, BI telah menaikkan tingkat bunga BI 7-DRR sebesar 50 basis poin menjadi 4,75%. Penaikan suku bunga acuan dilakukan untuk merespons kondisi nilai tukar rupiah.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top