Perang Tarif China-AS, Harga Batu Bara Ditutup Melemah

Pada perdagangan Selasa, harga batu bara untuk kontrak Januari 2019, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 0,38% atau 0,35 poin di posisi US$92,85/metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho | 20 Juni 2018 07:40 WIB
Batu bara melemah. - .Bisnis/Rahmatullah

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara ditutup melemah pada akhir perdagangan kemarin, Selasa (19/6/2018),

Pada perdagangan Selasa, harga batu bara untuk kontrak Januari 2019, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 0,38% atau 0,35 poin di posisi US$92,95/metrik ton.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, Senin (18/6/2018), harga batu bara kontrak Januari 2019 berakhir menguat 0,54% atau 0,50 poin di US$93,30.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah turun seiring meningkatnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang membebani prospek permintaan energi saat OPEC dan sejumlah produsen minyak bergerak menuju peningkatan produksi.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli 2018 berakhir di level US$65,07 per barel di New York Mercantile Exchange, meski kemudian sedikit beringsut ke posisi 65,14 per barel pada pukul 4.39 sore waktu setempat.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun 26 sen dan berakhir di US$75,08 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$10,18 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Harga minyak AS hampir tidak beranjak dari level penutupan perdagangan Selasa meskipun American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan penurunan cadangan minyak mentah di AS pada pekan lalu, sementara pasokan bensin naik lebih tinggi.

API dikabarkan melaporkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 3,02 juta barel pekan lalu, sedangkan pasokan bensin naik 2,11 juta barel. Stok minyak mentah AS diperkirakan turun 2,5 juta barel pekan lalu, menurut survei Bloomberg menjelang rilis data Energy Information Administration (EIA) hari ini, Rabu (20/6/2018) waktu setempat.

Isu dalam sesi perdagangan kemarin lebih didominasi oleh China yang berjanji akan melakukan pembalasan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor pada barang-barang China senilai US$200 miliar. Kesuraman pun menyebar ke pasar ekuitas di AS pada khususnya.

“Pasar [minyak] berada dalam pola bertahan menunggu keputusan OPEC dan berkaitan sangat erat ke pasar saham yang sedang mengalami pelemahan,” kata Thomas Finlon, direktur Energy Analytics Group LLC di Wellington, Florida, seperti dikutip Bloomberg.

Di lain pihak, Trump mengisyaratkan skeptisisme bahwa diskusi dengan China akan mengakhiri perselisihan. Pada Senin malam (18/6/2018) waktu setempat, Trump memerintahkan identifikasi atas barang-barang China senilai US$200 miliar untuk tarif impor tambahan sebesar 10%.

“Kita tampaknya mendapat beban lagi dari isu yang dibangkitkan dalam perang perdagangan AS-China,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC. “Dan tentu saja menjelang pertemuan OPEC, dengan Rusia yang menegaskan kembali bahwa mereka menginginkan peningkatan," kata Bob Yawger, direktur berjangka di Mizuho Securities USA Inc. di New York.

Dua pekan lalu, pemerintah China mengatakan akan mempertimbangkan untuk membeli batu bara dari AS dengan jumlah yang lebih banyak sebagai bagian dari upaya untuk menyusutkan defisit perdagangan dengan AS.

Namun kemudian. China berencana menjatuhkan tarif pada batu bara AS, sesaat setelah Amerika Serikat kembali memperbanyak pengiriman ke China dan Trump tengah berupaya untuk kembali membangkitkan permintaan untuk komoditas energi itu.

Tarif China pada komoditas batu bara tersebut menyerang tepat di jantung agenda energi Trump. Sejak terpilih, Trump terus berupaya membuat kampanye baik yang menjanjikan akan membangkitkan industri batu bara AS.

Tarif tersebut juga muncul setelah penambang batu bara AS telah mengalami pertumbuhan dan mulai bergantung pada pasar luar negeri untuk bertumbuh. Data Pemerintah AS menunjukkan ekspor batu bara AS melonjak hingga 61% pada 2017 setelah pengiriman ke Asia bertumbuh lebih dari dua kali lipat.

 Total ekspor batu bara ke China tercatat sebanyak 3,2 juta ton, lebih banyak tiga kali lipat jika dibandingkan dengan pengiriman pada periode tahun sebelumnya.

“Perdagangan tersebut bernilai sekitar US$395 juta, berdasarkan rata-rata harga pada US$122 per ton. 90% di antaranya merupakan batu bara metalurgi, jenis yang biasa digunakan untuk membuat baja,” ujar Andrew Cosgrove, analis Bloomberg Intelligence, dilansir dari  Bloomberg, Minggu (17/6/2018).

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Rotterdam

Tanggal       

US$/MT

19 Juni

92,95

(-0,38%)

18 Juni

93,30

(+0,54%)

15 Juni

92,80

(-0,70%)

14 Juni

93,45

(+0,16%)

13 Juni

93,30

(-0,37%)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

 

Tag : harga batu bara
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top