BI Diminta Optimalkan Bauran Kebijakan untuk Stabilisasi Rupiah

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia diminta benar-benar mengoptimalkan bauran kebijakan dengan melonggarkan kembali kebijakan makroprudensial yang diharapkan dapat mendorong sisi permintaan kredit perbankan khususnya kredit konsumsi.
Ipak Ayu H Nurcaya | 20 Juni 2018 21:18 WIB
Karyawati menghitung uang rupiah, di kantor Cabang Bank Bukopin di Jakarta, Senin (9/4/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia diminta benar-benar mengoptimalkan bauran kebijakan dengan melonggarkan kembali kebijakan makroprudensial yang diharapkan dapat mendorong sisi permintaan kredit perbankan khususnya kredit konsumsi.

Hal ini sebagai antisipasi kenaikan suku bunga perbankan yang dipastikan berlanjut dalam upaya stabilisasi nilai rupiah.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan, penguatan mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju dan negara berkembang pascakeputusan the Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps karena mempertimbangkan perekonomian yang terus membaik.

Hal ini tercermin dari proyeksi The Fed pada pertumbuhan ekonomi yang pada 2018 menjadi 2,8% dari proyeksi Maret. Selain itu, Fed juga cenderung optimistis terkait indikator inflasi yakni core PCE dan PCE juga diproyeksikan lebih tinggi yakni sekitar 2,0% dan 2,1% dari sebelumnya 1,9%.

"Tingkat pengangguran juga diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Proyeksi yang lebih optimistis tersebut juga mencerminkan ekspektasi Fed yang lebih optimistis pada arah suku bunga acuan AS dari FOMC Maret sebelumnya," katanya, Rabu (20/6/2018).

Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk. Adrian Panggabean menilai tekanan pada nilai mata uang rupiah saat ini akibat imbas langsung dari pergeseran valuasi di pasar obligasi sebagai akibat dari sejumlah kecenderungan.

Salah satunya, mengacu pada bentuk kurva imbal hasil obligasi Indonesia yang durasi pada kisaran 6,5% dengan convexity pada kisaran 0,5%–0,6%, rentang valuasi rupiah kemudian bergeser menjadi Rp13.800-Rp14.100.

Ekspektasi terhadap rentang rupiah yang baru pun diaksentuasi oleh memburuknya neraca perdagangan sepanjang Januari-April 2018.

"Dari sudut neraca pembayaran, tekanan jual di pasar saham juga menyebabkan pergeseran persepsi terhadap besaran Neraca Finansial atau Financial Account dalam Balance of Payment Indonesia," katanya.

Tag : Rupiah
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top