Jepang Pimpin Pelemahan Bursa Saham Asia

Bursa saham Jepang memimpin penurunan di Asia di tengah kekhawatiran investor bahwa aksi saling mengancam antara China dan Amerika Serikat akan memicu perang dagang besar-besaran. Harga minyak jatuh, sedangkan dolar AS menguat sejalan dengan imbal hasil surat utang AS stabil di atas 2,9%.
Sri Mas Sari | 18 Juni 2018 12:05 WIB
Indeks Bursa Jepang - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Bursa saham Jepang memimpin penurunan saham di Asia, di tengah kekhawatiran investor bahwa aksi saling mengancam antara China dan Amerika Serikat akan memicu perang dagang besar-besaran.

Harga minyak jatuh, sedangkan dolar AS menguat sejalan dengan imbal hasil surat utang AS stabil di atas 2,9%.

Penguatan yen membebani saham Tokyo, dengan pelemahan terbesar indeks Topix dalam hampir tiga pekan terakhir. Mengutip Bloomberg, indeks Topix 500 melemah 1,2% ke posisi 1.355,6 pukul 12.17 waktu Tokyo.

Ekuitas Korea Selatan tergelincir, sedangkan Indeks S&P 500 diprediksi turun. China dan Hong Kong, dua pasar yang lebih sensitif terhadap ketegangan perdagangan, ditutup karena libur. Harga minyak melanjutkan pelemahan karena Arab Saudi dan Rusia bersiap bertarung dengan anggota OPEC yang lain dan bersekutu dengan yang lainnya tentang apakah produksi akan ditingkatkan.

Yen dan emas menguat karena perdagangan didorong kembali ke pusat perhatian, dengan investor khawatir tentang penguatan intensitas konfrontasi antara AS dan China. China dengan cepat menanggapi Presiden Donald Trump yang mengerek penerimaan tarif impor ke US$50 miliar, menambah 25% bea ekspor pertanian dan otomotif AS US$34 miliar mulai 6 Juli.

Kepada TV Bloomberg , Pejabat Investasi Bank Singapura Johan Jooste mengatakan saat ini diperlukan lebih banyak kejelasan dalam perdagangan. Dia mengantisipasi lebih banyak kejutan di pasar dengan investor lebih menyukai posisi defensif. Perdagangan juga bukan satu faktor skenario penyesuaian dalam kebijakan moneter AS dan Bank Sentral Eropa.

“Hingga saat ini sudah hipotetis; tindakan telah diambil, tarif akan datang dan Anda harus menaruh perhatian yang sangat, sangat hati-hati pada dampaknya terhadap kepemilikan Anda,” kata Jooste.

“Ada terlalu banyak hal sekarag yang sulit diketahui secara sangat spesifik. Hal yang Anda ketahui adalah risiko lebih tinggi. Pasar akan melakukan sesuatu dari sikap yang hati-hati."

Sementara itu, pertemuan OPEC di Vienna pada Jumat untuk memperdebatkan keputusan pemangkasan produksi. Iran mengatakan Venezuela dan Irak akan bergabung untuk membendung proposal menaikkan produksi minyak yang dibekingi oleh Arab Saudi dan Rusia.

Di tempat lain, poundsterling bergerak lebih lemah menjelang debat parlemen tentang UU Brexit. Di pasar negara berkembang, won Korea Selatan dan ringgit Malaysia jatuh. Pasar di Indonesia dan Taiwan hari ini tutup.

Tag : bursa asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top