Gandum Laut Baltik Dilanda Kekeringan

Bisnis.com, JAKARTA Kekeringan menyebabkan kerusakan tak terduga pada tanaman gandum di sejumlah wilayah di Laut Baltik, Eropa. Hal ini menimbulkan tanda tanya terkait dengan pasokan ekspor.
Mutiara Nabila | 17 Juni 2018 13:24 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kekeringan menyebabkan kerusakan tak terduga pada tanaman gandum di sejumlah wilayah di Laut Baltik, Eropa. Hal ini menimbulkan tanda tanya terkait dengan pasokan ekspor.

Perkiraan panen gandum 2018 di Jerman diprediksi menyusut 6,5% menjadi 22,89 juta ton, sebagai dampak dari kekeringan.

“Gandum Polandia juga mengalami masalah serupa, hujan yang turun dalam beberapa waktu belakangan dinilai tidak cukup untuk mengatasi masalah panen karena kekeringan tersebut,” ujar Wojtek Sabranski, analis Sparks Polska, dikutip dari Reuters, Minggu (17/6/2018).

Sabaranski mengatakan bahwa panen gandum Polandia juga diperkirakan anjlok 6,7% dari 2017 menjadi 10,9 juta ton.

“Jika musim kering terus berlanjut hingga melewati Juni 2018, kami terpaksa kembali memangkas ramalan hasil panen menjadi sekitar 10,5 juta – 10,7 juta ton,” lanjut Sabaranski.

Dainius Pilkauskas, Direktur Perdagangan Gandum AB Linas Agro, mengungkapkan panen gandum di wilayah pengekspor utama Lituania juga diperkirakan anjlok ke posisi 3,1 juta – 3,2 juta ton dari jumlah sebanyak 3,8 juta ton pada tahun lalu. Proyeksi penurunan ini terjadi setelah mengurangi penanaman dan didera musim kering.

“Sangat sulit untuk memprediksi kualitas hasil panen sebelum panen itu sendiri dimulai. Jika sudah mengetahui kualitasnya setelah panen, barulah kami merencanakan lokasi tujuan ekspor,” ujar Pilkauskas.

Dia percaya bahwa Lituania masih akan menjadi kompetitor yang cukup kuat pada pasar gandum dunia.

Mikael Jeppsson, Kepala Departemen Pertanian dan Perdagangan Gandum Latmannern, menuturkan bahwa gandum di Swedia juga terkena dampak dari kurangnya curah hujan dan cuaca buruk yang menghancurkan sejumlah wilayah penanaman.

Panen gandum Swedia diperkirakan akan jatuh sekitar 15% - 20% dari rata-ratanya selama 5 tahun menjadi 2,46 juta ton.

“Gandum sangat menderita pada cuaca panas. Sejumlah wilayah pertanian gandum bahkan belum mendapat curah hujan sejak awal Mei,” ujar Jeppsson.

Sebelumnya, Swedia merupakan pengimpor utama komoditas gandum dari Eropa. Namun, untuk musim depan Jeppsson memperkirakan impor gandum dari Swedia akan dibantu juga dari wilayah-wilayah lain di Eropa karena terkena dampak cuaca buruk tersebut.

Palle Jakobsen, direktur perusahaan konsultan pertanian Denmark Agrocom, mengungkapkan bahwa kemerosotan tajam juga  akan melanda panen gandum Denmark. Wilayah tersebut menderita kekeringan parah pada awal musim panas ini, diikuti oleh curah hujan pada musim gugur yang membuat petani harus mengurangi penanaman gandum.

Hasil panen gandum Denmark diperkirakan anjlok menjadi sekitar 2,9 juta – 3 juta ton pada tahun ini, dari 4,6 juta ton pada tahun lalu.

“Panen gandum di Denmark menderita kekeringan, kalau ada curah hujan kemungkinan bisa mengurangi kerugian, tetapi tidak yakin bisa memperbaiki grafiknya. Denmark kemungkinan harus mengimpor lebih banyak gandum pada musim depan dari Eropa,” ungkap Jakobsen.

Tag : gandum
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top