Transaksi Obligasi: Kepercayaan Diri Investor Meningkat

Aktivitas transaksi di pasar obligasi sepanjang awal Juni menjelang liburan Lebaran meningkat cukup tinggi melampaui rata-rata sepanjang tahun berjalan 2018, menandakan pulihnya kepercayaan diri investor sekaligus aksi mengantisipasi libur Lebaran.
Emanuel B. Caesario | 10 Juni 2018 17:57 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA—Aktivitas transaksi di pasar obligasi sepanjang awal Juni menjelang liburan Lebaran meningkat cukup tinggi melampaui rata-rata sepanjang tahun berjalan 2018, menandakan pulihnya kepercayaan diri investor sekaligus aksi mengantisipasi libur Lebaran.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan, rata-rata aktivitas transaksi harian surat berharga negara (SBN) seri acuan sepanjang pekan pertama Juni sangat tinggi.

Seri-seri acuan tersebut mencakup seri FR0063 tenor 5 tahun, FR0064 tenor 10 tahun, FR0065 tenor 15 tahun, dan FR0075 tenor 20 tahun.

Rata-rata frekuensi transaksi harian sepanjang 4-7 Juni 2018 mencapai 453 kali per hari, jauh lebih tinggi dari rata-rata sepanjang tahun 2018 yang sebanyak 409 kali per hari. Volume transaksi harian mencapai Rp11,2 triliun per hari, lebih tinggi dari rata-rata sepanjang tahun Rp7,4 triliun per hari.

Selain pada tanggal 4 Juni 2018, tiga hari transaksi setelahnya selalu di atas Rp11 triliun per hari. Ini merupakan rekor tertinggi untuk transaksi harian sepanjang tahun, bahkan lebih tinggi dibandingkan transaksi awal Januari setelah pasar merespon kenaikan peringkat Indonesia oleh Fitch Ratings.

Data DJPPR menunjukkan, peningkatan aktivitas transaksi yang signifikan ini sudah terjadi sejak pekan terakhir bulan Mei, yakni 28-31 Mei 2018. Rata-rata transaksi harian pada pekan tersebut juga mencapai Rp11,2 triliun per hari dengan frekuensi lebih tinggi lagi, yakni 505 kali per hari.

Pada pekan tersebut memang terjadi momentum penting di dalam negeri karena Bank Indonesia secara mengejutkan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate, sebagai langkah preemptive.

Pasar bahkan sudah mulai mengantisipasi sebelumnya, ditandai meningkat pesatnya frekeunsi transaksi pada pekan sebelumnya, 21-25 Mei 2018, setelah BI mengumumkan akan menggelar rapat dewan gubernur luar biasa di akhir Mei. Frekuensi harian pekan itu mencapai 569 kali per hari.

Alhasil, kelesuan pasar yang terjadi sejak akhir April ditutup dengan pembalikan arah menuju tren positif. Secara umum, aktivitas transaksi pada Mei tercatat lebih baik dibandingkan April, padahal aktivitas transaksi pada awal hingga pertengahan Mei sempat menjadi yang terendah sepanjang 2018.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa peningkatan aktivitas transaksi ini dapat dilihat sebagai kembali pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar surat utang Indonesia.

Hal ini sangat erat terkait dengan kinerja nilai tukar rupiah yang kembali menguat ke bawah level Rp14.00 per dollar AS beberapa hari terakhir.

Ramdhan mengatakan, investor asing mulai melirik lagi aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, meskpun belum signifikan. Aksi beli investor asing sepanjang Juni sudah mencapai Rp10,72 triliun.

Meski begitu, dirinya menilai peningkatan aktivitas transaksi akhir-akhir ini justru berasal dari kalangan investor lokal.

“Saya juga kaget beberapa klien saya pada Rabu dan Kamis pekan lalu justru berani belanja, padahal harganya sedang agak naik, yieldnya agak kecil. Saya kira, salah satu alasannya adalah kebutuhan pemenuhan portofolio hingga akhir bulan, khususnya memenuhi aturan OJK tentang kewajiban investor domestik membeli aset SBN,” katanya, Minggu (10/6/2018).

Ramdhan mengatakan, pada Jumat pekan lalu aktivitas transaksi memang sedikit menurun bersama dengan berakhirnya hari transaksi bursa jelang liburan.

Pasar kemungkinan baru akan efektif lagi pada 25 Juni 2018 mendantang, sehingga investor cenderung segera menyesuaikan portofolionya pada pekan lalu sebab waktu yang tersisa untuk pemenuhan kewajiban OJK hingga akhir bulan menjadi sangat terbatas.

Padahal, keputusan untuk masuk ke pasar obligasi pada awal bulan ini tergolong sangat berisko, sebab sebentar lagi liburan dimulai dan control investor terhadap aset mereka di pasar surat utang sangat minim.

Di sisi lain, selama periode liburan, pasar global tetap aktif dan berbagai peristiwa yang mempengaruhi pasar bisa saja terjadi. Salah satu yang sudah diperkirakan yakni kenaikan suku bunga The Fed.

“Untuk trading sebenarnya agak spekulatif bila masuk awal bulan ini, karena pasifnya akan lama. Kalau ada perubahan eksternal bisa terakumulasi cukup panjang hingga 10 hari dan baru terjadi di hari masuk bursa. Market bisa naik banyak atau malah turun banyak,” katanya.

Menariknya, pasar justru mengalami koreksi yang cukup tajam sepanjang pekan lalu. Indeks Obligasi Komposit Indonesia atau ICBI menunjukkan penurunan signifikan 0,9% dari posisi tertinggi 241,257 pada Senin (4/6) menjadi 238,979 pada Jumat (8/6).

Sementara itu, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun sudah meningkat lagi ke posisi 7,261% berdasarkan data Asian Bonds Online per Jumat (8/6) pekan lalu pukul 17:15 waktu Manila. Padahal, yield SUN sempat turun ke level 6,9% setelah rupiah menguat ke bawah Rp14.000 per dollar AS.

Di saat yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun masih di level 2,92%. Yield US Treasury hanya meningkat 6,2 bps sejak awal bulan Juni, sementara yield SUN justru meningkat 26,9 bps.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top