Pasar Obligasi Berpeluang Menguat pada Akhir Juni

Meskipun dibayangi potensi tekanan akibat kenaikan suku bunga The Fed, pasar obligasi pada akhir bulan ini diproyeksikan akan tetap stabil karena investor domestik cenderung banyak memburu aset surat berharga negara (SBN) pada akhir bulan.
Emanuel B. Caesario | 06 Juni 2018 21:35 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA—Meskipun dibayangi potensi tekanan akibat kenaikan suku bunga The Fed, pasar obligasi pada akhir bulan ini diproyeksikan akan tetap stabil karena investor domestik cenderung banyak memburu aset surat berharga negara (SBN) pada akhir bulan.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa dua bulan terakhir, investor lokal, khususnya kalangan institusi keuangan non bank (IKNB) seperti asuransi, dana pensiun, dan reksadana cukup aktif membeli instruman surat berharga negara (SBN) pada akhir bulan.

Hal ini tidak terlepas dari peraturan OJK yang mewajibkan mereka untuk mengalokasikan hingga 30% investasinya pada instruman SBN. Ramdhan mengatakan, OJK cukup aktif memberikan peringatan kepada IKNB yang belum memenuhi kewajibannya untuk segera memenuhinya.

Alhasil, kalangan investor ini terdorong untuk masuk ke pasar, mengimbangi aksi jual investor asing. Mereka cenderung baru masuk pada akhir bulan untuk memenuhi kewajiban setelah ragu-raguan untuk masuk di pertengahan bulan karena kondisi pasar yang volatil.

“Ada kebutuhan untuk pemenuhan portofolio SBN, itu mendorong investor lokal untuk masuk ke pasar. Otomatis demand-nya meningkat. Ini bisa membantu paling tidak untuk mengurangi tekanan di bulan ini,” katanya, Selasa (5/6/2018).

Ramdhan mengatakan, cukup banyak pelaku IKNB skala kecil dan menengah yang masuk ke pasar SBN akibat kewajiban ini. Meski pun dengan nilai investasi yang kecil, tetapi karena jumlah mereka cukup banyak hasilnya cukup signifikan pula.

Di sisi lain, akhir-akhir ini investor asing cenderung kembali masuk ke pasar Indonesia, menyusul penurunan yield US Treasury dan meredanya penguatan dolar Amerika Serikat. Meski begitu, probabilitas bagi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini masih tetap tinggi sehingga potensi tekanan bagi pasar domestik tetap ada.

Ramdhan menilai, langkah pemerintah untuk mewajibkan IKNB mengalokasikan investasi pada SBN sangat positif. Dirinya berharap akan ada terobosan lanjutan dari pemerintah untuk meningkatkan pendalaman pasar domestik untuk meminimalisir tekanan akibat gejolak pasar global.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa liburan yang cukup panjang pada bulan ini memang cukup berisiko bagi investor di Indonesia, sebab mereka tidak dapat berubuat apa-apa ketika terjadi gejolak eksternal yang berpotensi merugikan pasar domestik.

“Kita tidak tahu pas opening setelah liburan market kita langsung ke posisi berapa karena responnya lama. Cuma kita lihat semoga ini udah diantisipasi pelaku pasar. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia kemarin juga kira-kira untuk antisipasi ini,” katanya.

Dirinya berharap dalam kondisi ketidakpastian ini, Bank Indonesia dapat menggulirkan bauran kebijakan yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top