Data Pekerjaan AS di Atas Ekspektasi, Dolar AS Potensial Kuat

Hasil data pekerja Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan membuat dolar AS menguat, meskipun Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko diperkirakan akan memberikan balasan tarif impor baja dan aluminium yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Mutiara Nabila | 03 Juni 2018 21:49 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Hasil data pekerja Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan membuat dolar AS menguat, meskipun Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko diperkirakan akan memberikan balasan tarif impor baja dan aluminium yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Data pekerjaan domestik AS meningkat pada Mei. Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan total pekerjaan nonfarm payroll (NFP) naik 223.000 dan tingkat penganggurannya berkurang pada level terendah selama 18 tahun pada 3,8% yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang semakin mengetat.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa kenaikan upah di AS juga solid, membuat kenaikan suku bunga AS pada Juni ini semakin pasti, dan meningkatkan ekspektasi kenaikannya yang keempat pada tahun ini.

Melawan sekeranjang berisi enam mata uang, indeks dolar AS naik 0,5% menjadi 94,45. Namun pergerakan tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan angka lonjakan tenaga kerja AS. Adapun, pada Jumat (1/6) indeks dolar ditutup naik 0,17 poin pada 94,15.

“Saat ini pasar memberikan harga secara adil sejalan dengan rencana The Fed, yang bergeser pada awal pekan lalu saat pasar mencoba mengambil keuntungan dari kenaikan suku bunga,” ujar Charles Tomes, analis investasi senior di Manulife Asset Management, dilansir dari Reuters, Minggu (3/6).

Kenaikan tensi perdagangan saat ini menjadi penyeimbang kekuatan data tenaga kerja dan menekan dolar AS. Seiring dengan pernyataan Trump terkait dengan pemberlakuan tarif impor logam, Kanada, Meksiko dan Uni Eropa mengatakan ketiganya berencana melakukan pembalasan dengan pajak bernilai milaran dolar AS untuk barang konsumsi seperti jus jeruk dan minuman keras hingga celana jin dan motor Harley-Davidson.

Kerusuhan politik di Italia pada awal pekan lalu juga mendorong indeks dolar AS menyentuh level tertingginya dalam 6 ½ tahun, namun ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang keempat pada 2018 sebelumnya sempat menurun karena ketakutan akan krisis di Zona Euro.

Euro pada Jumat (1/5) menguat, lolos dari pelemahan selama enam pekan berturut-turut, terdorong oleh imbal hasil Italia yang anjlok setelah kesepakatan koalisi yang kembali mencuat dan menarik Italia kembali dari kekacauan pemilihan umum.

Pound sterling turut menguat di hadapan dolar AS dan euro setelah data pertumbuhan manufaktur Inggris mengalami lonjakan pasa Mei.

Sebelumnya, pound sterling lesu, mendekati level terendah selama enam bulan pada US$1,32 per pound sterling, semakin dibatasi pula oleh pelemahan ekonomi Inggris yang dipicu faktor global, termasuk tarif impor terbaru AS dan kekacauan Pemilihan Umum italia.

 

Sumber : Reuters

Tag : dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top