Pasar Surat Utang: Likuiditas Juni Akan Menantang, Ini Pengaruhnya terhadap Investor

Likuiditas di pasar obligasi sepanjang bulan Juni 2018 diproyeksikan akan cukup menantang dengan kecenderungan investor yang akan sangat selektif untuk memilih instrumen surat utang yang akan dibeli, apalagi dengan waktu liburan yang panjang.
Emanuel B. Caesario | 31 Mei 2018 04:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Likuiditas di pasar obligasi sepanjang bulan Juni 2018 diproyeksikan akan cukup menantang dengan kecenderungan investor yang akan sangat selektif untuk memilih instrumen surat utang yang akan dibeli, apalagi dengan waktu liburan yang panjang.

Hal ini akan menjadi tantangan bagi emiten-emiten korporasi yang akan mengemisikan surat utang pada Juni. Seperti diketahui, emiten-emiten yang menggunakan laporan keuangan Desember 2017 sebagai acuan emisi obligasi harus menuntaskan proses emisinya pada Juni 2018.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa likuiditas pasar secara umum masih cukup bagus. Namun, dengan kondisi pasar yang selama ini tertekan, investor akan sangat hati-hati untuk memilih instrumen surat utang untuk dibeli.

“Investor akan sangat mengukur risiko, lebih mencari yang tidak rentan terhadap perubahan pasar, ratingnya bagus dan size juga tidak terlalu kecil. Dulu orang mungkin rebutan barang, tetapi sekarang investor asing juga keluar sehingga dana lokal banyak terserap untuk tampung itu,” katanya, Rabu (30/5/2018).

Ramdhan mengatakan, dalam kondisi pasar yang bullish, investor memang cenderung lebih toleran terhadap insturmen-instrumen berisiko tinggi, apalagi yieldnya memang lebih menarik di saat instrumen-instrumen berisiko rendah mengalami penurunan yield.

Namun, menimbang perkembangan kondisi global yang mengarah pada kebijakan pengetatan moneter, pasar menjadi lebih hati-hati. Pasar belum mengetahui secara pasti sampai kapan gejolak masih akan berlanjut dan sejauh mana tekanan di pasar negara berkembang akan berakhir.

Dengan kondisi ekonomi global yang mengetat, risiko emiten-emiten berperingkat rendah di negara berkembang menjadi tampak lebih tinggi bagi investor sehingga cenderung dihindari.

Ramdhan mengatakan, instrumen-instrumen di pasar sekunder sudah banyak yang mengalami koreksi harga dan menawarkan yield yang tinggi. Alhasil, investor saat ini memiliki lebih banyak pilihan instrumen untuk dibeli selain insturmen-instrumen baru yang ditawarkan di pasar perdana.

Investor akan membandingkan antara instrumen baru di pasar perdana dengan instrumen sejenis di pasar sekunder, dengan peringkat dan tenor yang sama. Selain memperhatikan perbandingan kuponnya, investor juga akan mengamati rekam jejak emiten.

Hal ini menguntungkan bagi emiten yang sudah sering menerbitkan surat utang di pasar dan memiliki rekam jejak yang bagus. Sementara itu, terhadap emiten yang baru pertama kali masuk pasar, pasar akan cenderung lebih sensitif sehingga akan meminta kupon yang tinggi.

Menurutnya, pasar cenderung kurang memberikan respon yang bagus bagi emiten baru ketimbang emiten yang sering mengemisikan surat utang, meskipun rekam jejak emiten itu di luar pasar surat utang cukup bagus dibandingkan emiten sejenis yang sudah lebih dahulu masuk pasar surat utang.

“Jadi, tergantung strategi emiten untuk menerbitkan surat utangnya, seperti apa timing dan strategi penjualannya,” katanya.

Emiten juga harus berebut dana dengan pemerintah yang akan tetap menggelar lelang rutin surat berharga negara (SBN). Apalagi, kebutuhan belanja negara cukup besar untuk kebutuhan tunjangan hari raya dan gaji bulan ke-13 pegawai negeri, sementara beberapa lelang terakhir hasilnya cukup minim.

Per awal April 2018, mandat pemeringkatan emisi obligasi yang dikantongi PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencapai Rp82,58 triliun. Mayoritas menggunakan buku Desember 2017 dan harus terbit pada kuartal kedua.

Sementara itu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, awal Mei hingga pertengahan Mei, hanya sekitar Rp11 triliun surat utang yang didaftarkan pada penitipan kolektif KSEI, mencakup MTN, obligasi, obligasi berkelanjutan, surat berharga perpetual dan sukuk.

Boumediene Sihombing, Managing Director Danareksa Sekuritas, mengatakan bahwa secara umum pelemahan yang terjadi di pasar surat utang pemerintah berimbas pada peningkatan yield bagi emisi obligasi korporasi.

Hal ini memberi tantangan tidak saja bagi pasar sekunder, tetapi juga bagi pasar primer. Dirinya sependapatan bahwa sepanjang Juni akan terjadi persaingan yang ketat di kalangan korporasi penerbit obligasi, terutama mereka yang menggunakan buku laporan keuangan Desember 2017.

Di sisi lain, waktu libur yang panjang menyita masa waktu penawaran bagi emiten. Untuk mengefektifkan waktu, Danareksa menawarkan kupon tunggal per seri bagi penawaran obligasi kliennya, bukannya dalam rentang kupon seperti biasanya.

“Jadi, memang sekarang bisa dikatakan kompetisinya lebih tough di primary market karena investor lebih selektif di saat sekarang,” katanya, Senin (28/5).

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa tetap ada peluang surat utang emiten korporasi tetap menarik bagi investor, sebab investor cukup menaruh perhatian pada peringkat dan tingkat kupon.

“Faktor strategi front loading SBN oleh pemerintah di semenlster I-2018 yang telah mencapai sekitar 46% dari target penerbitan juga menurut saya bisa mengurangi ‘perebutan’ dana dengan swasta,” katanya.

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top