Ini Penyebab Pasar Obligasi Juni Dinilai Masih Menantang

Kinerja pasar obligasi sepanjang bulan Juni 2018 belum dapat sepenuhnya diharapkan sebagai titik balik menuju fase pemulihan setelah sepanjang Mei 2018 mengalami tekanan yang yang cukup kuat.
Emanuel B. Caesario | 29 Mei 2018 20:00 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA—Kinerja pasar obligasi sepanjang bulan Juni 2018 belum dapat sepenuhnya diharapkan sebagai titik balik menuju fase pemulihan setelah sepanjang Mei 2018 mengalami tekanan yang yang cukup kuat.

Ekspektasi perbaikan kinerja pasar pada Juni 2018 erat terkait dengan rencana Bank Indonesia untuk kembali menggelar rapat dewan gubernur (RDG) pada Rabu (30/5), yakni di luar jadwal yang seharusnya.

Pengadaan RDG luar biasa ini disinyalir akan menelurkan keputusan untuk kembali menaikkan BI 7 Days Repo Rate sekali lagi. Hal ini meningkatkan ekspektasi pelaku pasar terhadap perbaikan kinerja pada Juni setelah Gubernur BI yang baru mengungkapkan komitmennya untuk selalu hadir di pasar.

Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI 7DRR sebesar 25 bps pada RDG pertengahan Mei 2018 nyatanya memang tidak berefek instan. Rupiah masih tetap tertekan dan pasar obligasi melanjutkan koreksinya.

Sementara itu, ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate pada Juni mendatang sudah mendekati 100% sehingga memang dibutuhkan langkah preventif ekstra dari pasar domestik untuk menahan arus modal keluar yang berpotensi menekan nilai tukar.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa efek kenaikan suku bunga terhadap kestabilan mata uang memang membutuhkan waktu.

Kenaikan suku bunga masih harus ditindaklanjuti dengan intervensi lanjutan dalam kebijakan moneter, antara lain lelang SBBI valas untuk menyerap cadangan dollar khususnya dari bank. Padahal, lelang ini memiliki jadwal sehingga tidak serta merta akan berefek instan pada pasar.

Di sisi lain, langkah pemerintah menerbitkan Samurai Bond ¥100 100 miliar juga positif untuk menambah cadangan devisa. Hal ini sudah mulai difaktorkan oleh pasar. Langkah-langkah ini diharapkan bisa meredam gejolak mata uang rupiah yang menjadi kunci kinerja pasar obligasi.

Made mengatakan, nilai tukar rupiah yang sempat menguat dua hari terakhir lebih banyak ditopang oleh pelemahan dollar, sehingga belum meyakinkan. Meski begitu, secara teknikal dollar kini cenderung mulai melemah terhadap mata uang global, sehingga tanpa buru-buru menaikan BI 7DRR pun rupiah kemungkinan bisa menguat lagi.

“Kita berharap penguatan rupiah dua hari terakhir bisa memberi sinyal penguatan setidaknya untuk jangka pendek dan menengah. Cuma perlu diingat bahwa bukan penguatan rupiah yang diharapkan pelaku pasar, tetapi stabilnya di level mana,” katanya, Senin (28/5).

Made menilai, sepanjang Juni masih ada potensi pelemahan di pasar obligasi domestik. Apalagi, ada libur lebaran yang cukup panjang dan bertepatan dengan pengambilan keputusan suku bunga The Fed.

Sepanjang Mei hingga Rabu (23/5), indeks ICBI sudah melemah setidaknya 3,2% dibandingkan akhir April 2018. Namun, sejak Kamis (24/5) hingga Senin (28/5) indeks ICBI sudah menguat lagi 1,6% dibandingkan posisi Rabu (23/5).

Meski begitu, menimbang dinamika ekonomi global, kebijakan Amerika Serikat, dan ketegangan geopolitik, masih terbuka kemungkinan hadirnya pelemahan lebih lanjut.

“Sepanjang Juni masih ada potensi pelemahan di pasar kita, makanya yang perlu diperhatikan bagaimana menjaga stabilnya rupiah,” katanya.

Boumediene Sihombing, Managing Director Danareksa Sekuritas, mengatakan bahwa secara umum pelemahan yang terjadi di pasar surat utang pemerintah berimbas pada peningkatan yield bagi emisi obligasi korporasi. Tantangan tidak saja di pasar sekunder, tetapi juga di pasar primer.

Sepanjang Juni akan terjadi persaingan yang ketat di kalangan korporasi penerbit obligasi juga, terutama mereka yang menggunakan buku laporan keuangan Desember 2017 sebab harus kelar pada Juni 2018. Di sisi lain, waktu libur yang panjang menyita masa waktu penawaran.

“Jadi, memang sekarang bisa dikatakan kompetisinya lebih tough di primary market karena investor lebih selektif di saat sekarang,” katanya, Senin (28/5).

Sebagai strategi untuk mengefektifkan waktu dan memudahkan emiten serta investor, Danareksa Sekuritas menawarkan kupon tunggal bagi seri-seri obligasi yang ditawarkan, bukannya dalam rentang kupon seperti biasanya.

Boumediene mengatakan, kenaikan lanjutan suku bunga BI 7DRR memang cukup dilematis bagi pasar, sebab penyesuaian suku bunga akan berarti pula meningkatnya biaya dana bagi emiten penerbit obligasi.

“Agak dilematis juga karena memang yang kita tahu dari sisi investor dalam beberapa kali bookbuilding selama ini cukup menantang juga, sehingga agak susah saat ini kalau ada kenaikan BI 7DRR,” katanya.

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top