Sempat Tembus Rp14.200, Rupiah Berjuang Tahan Tekanan Dolar AS

Pelemahan nilai tukar rupiah berlanjut pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (21/5/2018), di tengah depresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 21 Mei 2018 18:39 WIB
Petugas memeriksa uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah berlanjut pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (21/5/2018), di tengah depresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Rupiah ditutup melemah 0,24% atau 34 poin di Rp14.190 per dolar AS, level terlemahnya sejak Oktober 2015, setelah dibuka dengan depresiasi 28 poin atau 0,20% di Rp14.184 per dolar AS. Pada perdagangan Jumat (18/5), rupiah berakhir melemah 98 poin atau 0,70% di posisi 14.156.

Nilai tukar rupiah terus melemah bahkan sempat menembus level Rp14.200 hari ini. Seakan tidak ingin menyerah, pergerakannya mampu sedikit terapresiasi dan berakhir di kisaran level Rp14.100. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.183 – Rp14.203 per dolar AS.

Bersama rupiah, mata uang lainnya di Asia terpantau tertekan terhadap dolar AS sore ini, dipimpin won Korea Selatan yang melemah 0,72%, yen Jepang sebesar 0,46%, dan dolar Taiwan yang melemah 0,26%. Hanya dolar Hong Kong yang bergerak flat cenderung positif pada pukul 17.41 WIB.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut menguat 0,27% atau 0,251 poin ke level 93,888 pada pukul 17.30 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan tipis 0,052 poin atau 0,06% di level 93,689. Adapun pada perdagangan Jumat (18/5), indeks berakhir menguat 0,18% atau 0,168 poin di posisi 93,637.

Kepada Bisnis.com, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengemukakan serangkaian sentimen baik dari dalam maupun luar negeri menekan rupiah atas posisinya terhadap dolar AS.

“Padahal BI sudah menaikkan suku bunga, dan pertemuan AS dan China ada keputusan [menangguhkan pengenaan tarif]. Harusnya dolar mengalami pelemahan. Ternyata tidak,” kata Ibrahim.

Dipaparkan olehnya, yield obligasi AS bertenor 10 tahun bertahan di level tingginya, yaitu melampaui angka 3%, padahal sebelumnya di kisaran 2,89%. Dengan adanya peningkatan tersebut ujarnya, kemungkinan besar bank sentral AS akan menaikkan suku bunganya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Rupiah memproyeksi rupiah akan terus melemah hingga mencapai level Rp14.300 sampai pekan depan.

Menurutnya, efek dari kenaikan bunga acuan BI memang tidak terlalu berdampak positif ke pelaku pasar, karena hanya naik 25 bps menjadi 4,5%.

Sementara itu, Nanang Hendarsah, direktur eksekutif manajemen moneter di Bank Indonesia (BI) mengatakan pelemahan rupiah diakibatkan sejumlah faktor eksternal dan penguatan indeks dolar.

“Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi dalam pasar forex dan obligasi demi meredakan volatilitas,” ujar Nanang, seperti dikutip Bloomberg, Senin (21/5/2018).

 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top