KURS RUPIAH 21 MEI: Spot Berakhir Melemah 34 Poin

Nilai tukar rupiah berakhir melemah 34 poin atau terdepresiasi 0,24% ke level Rp14.190 per dolar AS pada penutupan pasar spot hari ini, Senin (21/5).
Aprianto Cahyo & Renat Sofie | 21 Mei 2018 16:04 WIB
Rupiah - JIBI/Rahmatullah

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berakhir melemah 34 poin atau terdepresiasi 0,24% ke level Rp14.190 per dolar AS pada penutupan pasar spot hari ini, Senin (21/5).

Akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level terendahnya dalam 31 bulan terakhir pada perdagangan Jumat (18/5/2018). Rupiah ditutup melemah 0,7% atau 98 poin di Rp14.156 per dolar AS.

Mata uang garuda menyentuh level terendahnya sejak Oktober 2015 setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (17/5/2018), rupiah ditutup terapresiasi 0,28% atau 39 poin ke level Rp14.058 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.053 – Rp14.158 per dolar AS.

Pengamat menilai masih berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh keterlambatan Bank Indonesia (BI) dalam merespons situasi.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah masih terus mengalami pelemahan, meski suku bunga BI telah menaikkan suku bunganya menjadi 4,5%. Berdasarkan catatan Bisnis, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 72 poin atau 0,51% ke level Rp14.130 per dolar AS, Jumat (18/5/2018).

"BI terlalu terlambat, sebelumnya investor sudah melakukan price in atau antisipasi kebijakan bunga acuan ke harga saham," kata ekonom Indef Bhima Yudistira Adhinegara kepada Bisnis, Jumat (18/5). Padahal, terangnya, Dollar Index terus mengalami kenaikan menjadi 93,4 dalam sebulan terakhir.

Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang global lainnya terpantau menguat 0,13% atau 0,118 poin ke level 93,587 pada pukul 16.43 WIB.

Di sisi lain, Gubenur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan pelemahan rupiah paska kenaikan 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal, tapi juga faktor internal, terutama defisit neraca perdagangan. "Ini reaksi pelaku usaha melihat dari sektor ekonomi kita," ujarnya, Jumat (18/5/2018).

Menurut Agus, pasar melihat neraca perdagangan April 2018 yang mengalami defisit sebesar US$1,6 miliar. Selain itu, pasar disebut turut dipengaruhi oleh serangan pengeboman di Indonesia. Terkait dengan pengeboman ini, kondisi tersebut dinilai tidak berpengaruh signifikan terhadap stabilitas ekonomi.

Berikut catatan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini, Senin (21/5/2018).

16:05 WIB

Pukul 15.59 WIB: Spot Ditutup Melemah 34 Poin di 14.190

Nilai tukar rupiah berakhir melemah 34 poin atau 0,24% di Rp14.190 per dolar AS seiring pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (21/5/2018).

15:33 WIB

Pukul 14.42 WIB: Spot Melemah 46 Poin ke 14.202

Nilai tukar rupiah melemah 46 poin atau 0,32% ke Rp14.202 per dolar AS seiring pergerakan IHSG menjelang penutupan perdagangan hari ini, Senin (21/5/2018).

13:39 WIB

Pukul 12.28 WIB: Spot Melemah 42 Poin ke 14.198

Nilai tukar rupiah melemah 42 poin atau 0,30% ke Rp14.198 per dolar AS seiring pergerakan IHSG pada awal sesi II perdagangan hari ini, Senin (21/5/2018).

12:08 WIB

Pukul 11.55 WIB: Spot Melemah 43 Poin

NIlai tukar rupiah di pasar spot melemah 43 poin atau 0,30% ke level Rp14.199 per dolar AS. 

10:43 WIB

Pukul 10.29 WIB: Spot Melemah 42 Poin

NIlai tukar rupiah di pasar spot melemah 42 poin atau 0,30% ke level Rp14.198 per dolar AS. 

09:50 WIB

Pukul 9.41 WIB: Spot Melemah 27 Poin

NIlai tukar rupiah di pasar spot melemah 27 poin atau 0,19% ke level Rp14.183 per dolar AS setelah dibuka di posisi Rp14.184.

08:21 WIB

AS Tunda Perang Dagang Dengan China

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut belum akan mengenakan tarif pada produk-produk China untuk saat ini, setelah kedua negara membuat kemajuan terkait isu perdagangan selama dua hari perundingan.

“Kami sedang menunda perang perdagangan. Jadi saat ini, kami sepakat untuk menangguhkan pengenaan tarif, sementara kami mencoba melaksanakan kerangka kerjanya,” ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin kepada 'Fox News Sunday', seperti dikutip Bloomberg, Senin (21/5/2018).

Seperti diketahui, Presiden Donald Trump telah mengancam akan mengenakan tarif impor senilai US$150 miliar pada sejumlah produk China, demi menindak negeri Tirai Bambu yang dianggap melanggar kekayaan intelektual Amerika serta melakukan praktik perdagangan yang tidak adil.

Di lain pihak, China berjanji untuk melakukan pembalasan dengan memberlakukan tarif impor untuk produk-produk AS, mulai dari kacang kedelai hingga pesawat terbang.

Pernyataan Mnuchin tersebut akan melegakan para investor, yang telah mengkhawatirkan bahwa kedua negara berkekuatan ekonomi terbesar dunia itu sedang berada di ambang konflik perdagangan habis-habisan.

Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperingatkan bahwa perang perdagangan global akan melemahkan pergerakan global dalam beberapa tahun.

Namun, ketika ditanya tentang apakah Trump telah mencabut ancaman pemberlakuan tarif tersebut, Larry Kudlow, penasihat ekonomi Trump, berkata bahwa tahap itu belum tercapai.

“Tarif adalah bagian dari negosiasi, dan tarif mungkin harus menjadi bagian dari suatu tindakan tegas. Anda tidak dapat melakukan perubahan besar seperti ini tanpa menggunakan semua yang ada dalam opsi,” kata Kudlow kepada CBS, Minggu (20/5/2018) waktu setempat.

Masih juga belum jelas berapa lama gencatan senjata antara keduanya akan berlangsung. Trump seringkali mengubah posisinya terkait isu-isu perdagangan.

Contohnya saja, dia telah sering menyatakan bahwa pembicaraan tentang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara yang baru berjalan dengan baik, namun kemudian kembali mengancam untuk menarik diri dari pakta tersebut.

Komentar Mnuchin tersebut muncul setelah kedua negara pada hari Sabtu (19/5/2018) merilis pernyataan bersama, dimana China mengusulkan untuk meningkatkan pembelian barang-barang AS secara signifikan.

07:36 WIB

Indeks Dolar Ditopang Yield Obligasi AS

Indeks dolar AS pada pagi ini menguat.

Di pasar mata uang, seperti dikutip Reutres, Senin (21/5/2018), imbal hasil AS yang lebih tinggi membantu memperkuat dolar AS terhadap sejumlah mata uang lainnya.

Berikuti pergerakan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun.

 

Pergerakan Indeks Dolar AS

21 Mei (pk. 07.18 WIB)         93,780

18 Mei                                     93,637

17 Mei                                     93,469

 

Sumber: Bloomberg

 

 

Yield Obligasi AS Tenor 10 Tahun

21 Mei (pk. 07.33 WIB)                 3,077

18 Mei                                             3,057

17 Mei                                             3,112

 

Sumber: Bloomberg, 2018

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : News Editor

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top