Pasca-Kenaikan Suku Bunga BI, Sejumlah Saham Ini Bisa Jadi Pilihan

Saham sektor pertambangan masih menjadi top picks sejumlah analis pasca Bank Indonesia memutuskan untuk mengerek BI 7-Day Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%.
M. Nurhadi Pratomo | 20 Mei 2018 23:21 WIB
Karyawan melintas di antara monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA— Saham sektor pertambangan masih menjadi top picks sejumlah analis pasca Bank Indonesia memutuskan untuk mengerek BI 7-Day Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%.

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading Phintraco Sekuritas Medan memperkirakan saham sektor perbankan akan terkena imbas kenaikan suku bunga acuan. Menurutnya, kebijakan tersebut diperkirakan cenderung membuat non performing loan meningkat dan kredit yang disalurkan menurun.

Pasca kenaikan BI 7DRRR, dia menjadikan saham PT Adaro Energi Tbk. dan PT Bukit Asam Tbk. sebagai top picks. Pasalnya, kinerja fundamental dua emiten batu bara itu diprediksi terkerek penguatan Dolar terhadap Rupiah serta harga komoditas yang tengah berada pada tren bullish.

“Emiten komoditas menjadi pilihan utama untuk memanfaatkan pasar yang tengah tidak menentu seperti sekarang,” ujarnya kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Selain emiten sektor pertambangan, Frankie juga menjadi saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT PP (Persero) Tbk., dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk., sebagai top picks. Pasalnya, ketiganya masih diperdagangkan dengan valuasi yang sangat murah namun memiliki kinerja fundamental yang sangat baik.

“Dengan harga yang sudah rendah dan performa perseroan yang terus mencatatkan laba, saham Bekasi Fajar Industrial Estate diperkirakan bisa menjadi kuda hitam pada tahun ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta Utama juga memasukkan saham Bukit Asam sebagai salah satu top picks pasca kenaikan suku bunga acuan. Secara teknikal, pergerakan harga telah berhasil melewati fase akumulasi sehingga bertahan di atas garis up channel.

Nafan mempertahankan rekomendasi beli untuk emiten berkode saham PTBA itu. Target harga secara bertahap berada di level Rp3.780 hingga Rp4.300.

Selanjutnya, dia merekomendasikan saham sektor pertambangan lainnya, PT Delta Dunia Makmur Tbk. Menurutnya, emiten berkode saham DOID masih layak dikoleksi dengan target harga Rp1.390.

Adapun, Nafan menambahkan tiga emiten lainnya yakni Waskita Karya, PT Unilever Indonesia Tbk., dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. ke dalam daftar top picks.

Di sisi lain, Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas menyebut dua emiten perbankan PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. masih layak dicermati. Menurutnya, kedua bank itu lebih resilient saat suku bunga naik.

Frederik menyebut Bank Central Asia memiliki current and savings account ratio (CASA) ratio paling kuat sehingga tidak mendapat tekanan dari kenaikan cost of funf. Dengan demikian, pihaknya memproyeksikan emiten berkode saham BBCA itu memiliki target harga teknikal di level Rp22.800.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top