Dolar AS Tergelincir di Hadapan Mata Uang G-10

Dolar Amerika Serikat melemah di hadapan seluruh mata uang negara anggota Group-of-10 atas kekhawatiran terhadap dampak negatif dari kenaikan treasury yields pada ekonomi AS dan kondisi perdagangan antara Washington dan Beijing yang sedang memanas.
Mutiara Nabila | 17 Mei 2018 20:49 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat melemah di hadapan seluruh mata uang negara anggota Group-of-10 atas kekhawatiran terhadap dampak negatif dari kenaikan treasury yields pada ekonomi AS dan kondisi perdagangan antara Washington dan Beijing yang sedang memanas.

Pada Selasa (15/5) diketahui imbal hasil AS untuk tenor 10 tahun mengalami kenaikan hingga 3,11% dan tercatat sebagai capaian tertinggi sejak Juli 2011.

Adapun indeks spot dolar AS dari Bloomberg terjun 0,2% dengan faktor utama yang menekan penurunan tersebut adalah penguatan mata uang pound sterling setelah muncul laporan kemajuan terkait dengan Brexit.

“Pascapengumuman bahwa Parlemen Inggris akan bersedia untuk tetap berada di dalam serikat pabean Uni Eropa di luar 2021 dalam upaya untuk menghadang skenario Brexit, GBPUSD bereaksi dengan rebound dari harga rendahnya,” ujar Arie Nurhadi, analis PT Monex Investindo Futures dalam laporan resminya pada Kamis (17/5/2018).

Dolar AS melemah di hadapan pound sterling sebanyak 0,29% atau 0,0039 poin menjadi US$1,35 per pound sterling. “Peluang penguatan GBPUSD pada perdagangan di hari ini secara teknikal perlu konfirmasi melalui penembusan area resistan di 1.3606, 1.3628, dan 1.3665,” lanjut Arie,

Wakil Perdana Menteri China Liu He akan melakukan kunjungan ke Washington pada pekan ini untuk berbicara dengan pemerintah Trump mengenai cara untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan antara kedua negara.

“Kenaikan imbal hasil bisa memukul data ekonomi AS, yang akan membuat Presiden AS Donald Trump meningkatkan retorika proteksionisnya,” ujar Minori Uchida, kepala bidang riset pasar global di Bank of Tokyo UFJ Ltd., dikutip dari Bloomberg, Kamis (17/5/2018).

“Dolar diperkirakan akan melemah untuk mengoreksi penguatan yang terjadi sekarang,” lanjut Uchida.

“Kesepakatan tersebut disebut sebagai upaya terakhir yang dianggap oleh pasar sebagai langkah positif,” ujar Rodrigo Catril, strategis mata uang di National Austria Bank di Sydney.

“Namun, masih jelas bahwa tidak ada pandangan konsensus dari pemerintah. Masalah Brexit akan menjaga pound tetap volatile untuk jangka pendek,” lanjut Catril.

Dolar AS juga melemah di hadapan dolar Selandia Baru (NZD) 0,04% atau 0,0003 poin menjadi US$0,69 per NZD setelah pemerintahan baru merilis data bujetnya. Estimasi surplus bujet untuk tahun 2017-2018 berada pada posisi NZ$3,14 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi pada Desember sebesar NZ$2,54 miliar.

Adapun, dolar Australia atau AUD menguat di hadapan dolar AS sebanyak 0,23% atau 0,0017 poin menjadi US$0,75 per AUD setelah data pekerja Australia pada April mengalami kenaikan melebihi prediksi. Adapun, data tingkat pengangguran juga lebih banyak menjadi 5,6% dari perkiraan 5,5%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top