Mulai Lakukan Uji Kelayakan, Berikut Program Kerja Sejumlah Paket Calon Direksi BEI 2018—2021

Otoritas Jasa Keuangan sudah mulai melakukan uji kelayakan atau fit and proper test terhadap empat calon paket direksi Bursa Efek Indonesia periode 20182021 sejak pekan lalu.
Tegar Arief | 17 Mei 2018 04:30 WIB
Pengunjung beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (19/2/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan sudah mulai melakukan uji kelayakan atau fit and proper test terhadap empat calon paket direksi Bursa Efek Indonesia periode 2018—2021 sejak pekan lalu.

Empat paket calon sudah memaparkan program kerja yang akan dilakukan bila terpilih menjadi petinggi di lembaga itu.

Laksono Widodo misalnya, laki-laki yang menjabat sebagai Direktur Mandiri Sekuritas ini memiliki program yang menekankan pada peluncuran produk baru di pasar modal.

Tujuannya, untuk memancing minat investor sehingga dana lebih likuid. Menurutnya, meningkatkan likuiditas dengan memperkaya produk harus segera diterapkan di pasar modal Tanah Air.

"Untuk meningkatkan volume ada produk baru. Kenapa? Agar semua pelaku pasar bisa mendapatkan keuntungan sehingga likuiditas lebih baik," katanya di Gedung BEI, Rabu (16/5).

Dia mencontohkan, produk exchange traded fund (ETF) yang sejauh ini masih sepi peminat. Menurutnya, belum berkembangmnya pasar ETF di dalam negeri disebabkan belum adanya produk derivatif. Padahal produk ETF yang beredar cukup banyak, yakni 14 produk.

Kata Laksono, produk derivatif ini diterbitkan bukan untuk spekulasi, tetapi sebagai alat lindung nilai atau hedging. Hedging atas underlying saham maupun obligasi melalui produk derivatif memang kerap diterapkan di pasar modal.

"Saat ini sudah saatnya Indonesia memperkenalkan produk derivatif. Salah satu contohnya ETF yang belum bisa berkembang karena belum ada produk derivatif. Esensinya [program kami] itu," ujarnya.

Sementara itu, Tito Sulistio masih belum bersedia mengungkapkan program baru yang akan dihadirkan di pasar modal. Sebagai petahana, dia hanya mengatakan akan meneruskan seluruh program yang saat ini berjalan. "Saya ini incumbent, jadi tinggal melanjutkan," kata dia.

Menurutnya, perkembangan pasar modal telah berjalan dengan baik di mana rata-rata transaksi harian saat ini naik sebesar 16% dibandingkan dengan tahun lalu menjadi Rp8,8 triliun. Tak hanya itu, frekuensi perdagangan BEI juga yang tertinggi di Asia Tenggara yakni mencapai 386.000.

Tito menyerahkan seluruh prosesnya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pria berkumis ini mengaku telah menjalani uji kelayakan atau fit and proper test di OJK dan tinggal menunggu hasil. "Sekarang tinggal menunggu penilaian OJK."

Masa jabatan Tito Sulistio akan berakhir ketika rapat umum pemegang saham (RUPS) BEI digelar pada akhir Juni mendatang.

Adapun, selain kedua nama tersebut, pemilihan direksi bursa juga diramaikan oleh dua nama lain yakni Inarno Djajadi dan Boyke Mukijat. Inarno merupakan salah satu Komisaris BEI, dan pernah menduduki posisi sebagai Komisaris Utama PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI).

Inarno Djajadi mengklaim telah mendapat dukungan sebesar 30% dari market share pasar modal yang berasal dari 27 anggota bursa (AB).

Seperti diketahui, setiap paket dalam pemilihan direksi bursa diwajibkan memperoleh dukungan dari 10 AB yang mewakili 10% market share dari total frekuensi dan nilai perdagangan efek.

"Saya didukung oleh 27 AB yang merepresentasikan 30% market share. Ini angka yang cukup besar karena secara historical yang mengikuti sekitar 70%-80%," kata dia kepada Bisnis.

Dia menjelaskan, selama ini tidak seluruh AB terlibat dalam pemilihan direksi bursa. Secara rata-rata, keikutsertaan AB hanya 75% dan maksimal 80%. Ada beberapa alasan yang membuat AB tidak terlibat dalam pemilihan.

Pertama, karena menjaga netralitas. Kedua, karena terkena sanksi suspensi dari bursa. Kata Inarno, ada beberapa perusahaan sekuritas asing yang selama ini tidak pernah terlibat dalam pemilihan dengan alasan menjaga netralitas.

Adapun, Inarno masih belum bersedia untuk menjelaskan program atau visi misi jika menduduki kursi utama di bursa. Alasannya, proses uji kelayakan masih belum tuntas di OJK.

"Untuk calon Direktur Utama sudah fit and proper test, tapi untuk tim dalam paket masih belum selesai," kata dia. Proses uji kelayakan oleh otoritas tersebut kemungkinan akan tuntas pada akhir pekan ini.

Tag : bursa efek indonesia
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top