Yield US Treasury Tembus 3%, Pasar Obligasi Kembali Rentan

Setelah sempat mereda bersama wacana peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia pekan ini, pasar obligasi kembali menghadapi tekanan akibat meningkatnya sentimen eksternal seiring dengan kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang kembali bergerak menembus level 3%.
Emanuel B. Caesario | 16 Mei 2018 06:38 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA—Setelah sempat mereda bersama wacana peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia pekan ini, pasar obligasi kembali menghadapi tekanan akibat meningkatnya sentimen eksternal seiring dengan kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang kembali bergerak menembus level 3%.

Saktiandi Supaat, analis Maybank, mengatakan bahwa yield US Treasury tenor 10 tahun kembali meningkat ke level 3% sejak Senin (14/5) malam waktu setempat, merespons komentar pejabat The Fed Cleveland Loretta Mester.

Mester mengatakan Fed mungkin harus menaikkan suku bunga ke level restrictive di atas 3% untuk memenuhi tujuan gandanya, yakni inflasi yang stabil dan pengangguran rendah.

“Kami memperingatkan bahwa kenaikan yield US Treasury yang cepat dapat menimbulkan risiko peningkatan pada dolar AS. Rupiah Indonesia, Rupee India, dan Peso Filipina mungkin paling rentan,” kata Saktiandi melalui riset, Selasa (15/5).

Merespons hal tersebut, nilai tukar rupiah memang kembali melemah tajam pada Selasa (15/5) ke level Rp14.037, meningkat 65 poin dibandingkan dengan hari sebelumnya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali menembus 14.000 setelah beberapa hari sempat turun ke level 13.900a-an.

I Made Adi Saputra, Kepala Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa sinyal kenaikan suku bunga The Fed pada Juni mendatang memang sudah sangat kuat dengan probabilitas di atas 90%, meskipun beberapa data pendukung terakhir seperti angka serapan tenaga kerja dan inflasi masih belum sesuai estimasi.

Adanya sentimen baru pendorong kenaikan yield US Treasury memang berpotensi menyebabkan pasar kembali tertekan, setelah selama beberapa hari sebelumnya menguat karena ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia.

Rapat dewan gubernur atau RDG Bank Indonesia pekan ini diperkirakan akan menelurkan keputusan kenaikan suku bunga Bank Indonesia, setidaknya 25 bps. Hal tersebut diharapkan dapat meredam gejolak nilai tukar rupiah.

Adapun, pasar obligasi Indonesia sendiri pada Selasa (15/5) masih menunjukkan tanda-tanda penguatan. Indeks obligasi komposit Indonesia atau ICBI masih tumbuh 0,12% ke level 239,85. Penguatan berlanjut sepekan terakhir sejak Kamis (10/5) pekan lalu.

Yield surat utang negara (SUN) 10 tahun ditutup 7,081%, turun tipis 0,21% atau 0,016 poin dari hari sebelumnya 7,096%.

Sementara itu, lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara yang digelar pada Selasa (15/5) juga mendulang hasil yang cukup positif setelah pekan lalu pemerintah memutuskan membatalkan lelang.

Lelang berhasil mendulang minat investor senilai Rp9,1 triliun, lebih baik dibandingkan lelang surat utang negara (SUN) konvensional pekan lalu Rp7,19 triliun dan lelang sukuk negara dua pekan sebelumnya Rp5,53 triliun.

Pemerintah menyerap senilai Rp4,05 triliun, lebih tinggi dari target Rp4 triliun, dan lebih tinggi dibandingkan penyerapan lelang SUN pekan lalu yang dibatalkan sepenuhnya dan lelang sukuk dua pekan lalu yang hanya diserap Rp1,38 triliun. Padahal, yield yang diminta investor dalam lelang kali ini pun masih relatif tinggi.

Meski begitu, lanjut Made, pasar bukannya sudah tanpa kekhawatiran. Belum ada jaminan bahwa dengan menaikkan suku bunga acuan BI 7 days repo rate, kestabilan nilai tukar rupiah benar-benar akan tercapai. Bila demikian, tekanan terhadap pasar justru bisa meningkat.

“Kalau target stabilitas nilai tukar rupiah itu tidak tercapai, berarti resikonya akan dobel yakni ada sinyal pengetatan di pasar keuangan dan nilai tukar rupiah juga tidak terkendali. Mungkin pertumbuhan ekonomi juga akan terdampak, ongkos utang pemerintah juga harus disesuaikan ulang,” katanya, Selasa (15/5).

Anil Kumar, Manajer Portofolio dan Investasi Ashmore Asset Management Indonesia, mengatakan bahwa pasar sejauh ini masih cenderung menunggu sehingga respons terhadap gejolak yield US Treasury sejauh ini masih relatif terbatas. Di sisi lain, belum ada sentimen positif baru untuk menopang penguatan pasar Indonesia.

Menurutnya, minat lelang yang meningkat juga belum sepenuhnya menggambarkan pemulihan pasar. Pemerintah juga terlihat cukup hati-hati untuk menyerap hasil lelang dan tidak terburu-buru menyerap penawaran dari imbal hasil yang terlalu tinggi.

Sementara itu, neraca perdagangan April juga tercatat defisit US$1,63 miliar. Ini defisit ketiga kalinya dalam 4 bulan awal 2018 dan juga yang terdalam sejak Mei 2014. Ini berbeda dibandingkan ekpektasi banyak ekonom bahwa surplus masih akan berlanjut pada April.

“Sejauh ini belum ada cerita lain di pasar yang cukup mempengaruhi pergerakan pasar. Di dalam negeri juga belum ada katalis yang positif. Pasar masih relatif sama keadaanya, cenderung wait and see,” katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top