Emiten Rumah Sakit Gencarkan Akuisisi

Akuisisi tampaknya menjadi strategi andalan perusahaan pengelola rumah sakit, tak terkecuali emiten baru. Dua perusahaan yang baru saja melantai di bursa berusaha untuk mengakuisisi rumah sakit lain sebagai salah satu strategi ekspansi.
Tegar Arief | 16 Mei 2018 18:32 WIB
Direktur PT Royal Prima Tbk. (PRIM) Mok Siu Pen mengungkapkan perseroan siap mengakuisisi 4 rumah sakit pada tahun ini, Selasa (15/5). - Bisnis/Novita Sari Simamora

Bisnis.com, JAKARTA - Akuisisi tampaknya menjadi strategi andalan perusahaan pengelola rumah sakit, tak terkecuali emiten baru. Dua perusahaan yang baru saja melantai di bursa berusaha untuk mengakuisisi rumah sakit lain sebagai salah satu strategi ekspansi.

PT Medikaloka Hermina Tbk. misalnya, yang pada tahun ini akan menambah empat unit jaringan, di mana satu diantaranya telah diresmikan. Berlokasi di Samarinda, rumah sakit baru ini merupakan cabang ke-29 Hermina.

"Akuisisi masih perencanaan, karena harus due diligence dulu. Kalau cocok baru akan kami eksekusi," kata Direktur Operasional dan Umum PT Medikaloka Hermina Tbk. Yulisar Khiat di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (16/5/2018).

Emiten bersandi saham HEAL itu mendapatkan dana senilai Rp1,3 triliun dari hasil penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Dari jumlah tersebut, 25% atau Rp325 miliar akan digunakan untuk akuisisi dan atau pendirian rumah sakit baru.

Namun, Yulisar masih belum bersedia untuk mengungkapkan nama rumah sakit yang tengah dalam proses akuisisi, termasuk lokasi dari bangunan itu. "Yang pasti di seluruh Indoensia," ujarnya.

Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategi PT Medikaloka Hermina Tbk. Aristo Setiawidjaja menambahkan, ada dua macam ekspansi yang akan dilakukan perseroan. Selain menambah rumah sakit baik melalui pendirian ataupun akuisisi, HEAL juga akan menambah kapasitas rumah sakit yang ada.

Per akhir tahun lalu, kapasitas tempat tidur Hermina mencapai 2.780 unit dan akan ditambah 400 unit pada tahun ini yakni dari empat rumah sakit baru 200 unit dan pengembangan dari rumah sakit yang ada 200 unit.

Pada tahun fiskal 2017, HEAL menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20%. Adapun pada tahun lalu, perseroan memperoleh pendapatan senilai Rp2,7 triliun dan EBITDA senilai Rp574,9 miliar.

Dalam tiga tahun terakhir, HEAL telah mencapai pertumbuhan rata-rata tahunan majemuk atau compounded annual growth rate (CAGR) sebesar 25,2% untuk pendapatan dan 30,8% untuk EBITDA.

Dari penawaran umum, perseroan berhasil memperoleh dana senilai Rp1,3 triliun, di mana sekitar 25% akan digunakan untuk menambah jaringan rumah sakit, 25% untuk pembelian alat medis, 38% untuk menurunkan utang perseroan, serta 12% untuk kebutuhan operasional lainnya.

Strategi serupa juga dilakukan emiten baru PT Royal Prima Tbk. (PRIM). Perusahaan rumah sakit yang bermarkas di Medan tersebut berencana untuk mengakuisisi 4 rumah sakit pada tahun ini yang terletak di Medan, Tebing Tinggi, Pekanbaru dan Tangerang.

"[Akuisisi] dalam perencanaan, akan ada rumah sakit umum dan rumah sakit spesialis," kata Direktur PT Royal Prima Tbk. Mok Siu Pen.

Dalam penawaran umum, PRIM memperoleh dana sneilai Rp975 miliar. Senilai Rp600 miliar diperoleh pada saat penjualan saham perdana, dan sisanya berasal dari hasil pelaksanaan waran yang akan dimulai periode pelaksanaannya enam bulan dari pencatatan saham PRIM.

Sebesar 40% dari dana IPO tersebut akan dialokasikan untuk mengakuisisi rumah sakit baru pada tahun ini, 20% untuk renovasi gedung, serta 20% untuk pembenahan fasilitas informasi teknologi.

Akuisis dan merger tidak hanya dilakukan oleh emiten rumah sakit yang baru melantai di bursa. Pemain lama di sektor ini juga melakukan langkah serupa. PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME) misalnya.

Perusahaan yang menaungi Omni Hospitals ini sempat melakukan due diligence untuk proses akuisisi rumah sakit di kawasan Jabodetabek. Namun aksi korporasi itu gagal karena sejumlah alasan.

"Rencana itu akhirnya batal karena ada permasalahan. Tapi ke depan apakah akan ada merger atau akuisisi tentu peluang itu ada," kata Direktur PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. Hasan Themas.

Saat ini, perseroan telah mengakuisisi lahan di kawasan Balikpapan. Namun pendirian rumah sakit di kota tersebut harus tertunda karena beberapa tahun lalu kinerja sektor komoditas yang menjadi tumpuan Balikpapan kurang moncer.

PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) menjadi salah satu emiten yang terbilang rajin melakukan akuisisi. Tahun lalu saja, dari delapan rumah sakit baru yang didirikan oleh Siloam, empat diantaranya merupakan hasil dari akuisisi.

Akuisis SILO tampaknya bakal berlanjut pada tahun ini. "Sebagian sudah ada [pendekatan untuk melakukan akuisisi]. Tapi intinya peluang akuisisi ini tergantung dari ketersediaan," kata Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals Tbk. Ketut Budi Wijaya.

Dia menjelaskan, proses akuisisi tidak bisa ditargetkan pada awal tahun. Karena biasanya tawaran untuk melakukan pembelian sebuah rumah sakit datang secara tiba-tiba dan mempertimbangkan sejumlah faktor seperti harga dan letak bangunan tersebut.

Secara total, perusahaan tersebut telah menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) senilai Rp1 triliun pada tahun ini. Tanpa menyebut persentase, Ketut mengatakan ada porsi dalam dana tersebut untuk melakukan akuisisi. "Fleksibel saja, tidak kami alokasikan khusus."

Tag : rumah sakit
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top