Gubernur BI Minta Semua Pihak Tak Berlebihan Sikapi Kondisi Rupiah

Bisnis.com, JAKARTA Bank Indonesia meminta setiap pihak untuk tidak terlalu berlebihan mengambil kesimpulan dari kondisi rupiah yang sedang tidak stabil. Sebab, selain dari nominal harus dilihat pula dari sisi presentasenya.
Ipak Ayu H Nurcaya | 15 Mei 2018 16:14 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo bersiap menggelar konferensi pers terkait langkah BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di Jakarta, Kamis (26/4/2018). - REUTERS/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia meminta setiap pihak untuk tidak terlalu berlebihan mengambil kesimpulan dari kondisi rupiah yang sedang tidak stabil. Sebab, selain dari nominal harus dilihat pula dari sisi presentasenya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mengatakan, gejolak perekonomian yang berasal dari luar itu bersifat dinamika yang wajar. Namun, adanya depresiasi dari nilai tukar rupiah harus dilihat dari presentase karena masih sedikit dari nominal.

"Tolong jangan hanya liat depresiasi dari nominal dibandingkan dengan banyak negara lain kita juga masih yang terendah. Besok kami akan lakukan RDG 2 hari untuk merespons kondisi ini kami akan matangkan kajian untuk melakukan eksekusi peluang kenaikan suku bunga," katanya, Selasa (15/5/2018).

Agus mengemukakan dalam perkembangan perekonomian di Internasional tengah terjadi banyak dinamika misalnya mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat karena pernyataan dari Menteri Perdagangannya yang akan melakukan peninjauan tarif impor baja.

Hal serupa juga terjadi di Eropa yang juga memberikan pengumuman rencana pada 2019 akan melakukan pengetatan atas mata uang Euro.

Dirinya memastikan BI tentu terus mengikuti statement yang ada sebab kondisi AS berpengaruh ke negara berkembang. Apalagi Indonesia adalah satu negara yang kondisi ekonominya cukup mempunyai hubungan dengan kondisi global.

Agus mengemukakan saat ini kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat menghadapi berbagai guncangan yang ada. Untuk itu, diharapkan masyarakat selalu tenang sebab ada Bank Sentral yang selalu ada.

Secara umum bahkan usai kejadian teror bom di Surabaya dampak yang ada hanya bersifat minimum. Selain itu, kejadian di negara tetangga seperti terpilihnya Perdana Menteri Malaysia yang baru juga membawa pengaruh yang stabil di Indonesia.

"Di pasar saham kemarin juga sudah ada perbaikan, dan kalau ada guncangan sifatnya dinamis, kita sambut baik dana investor rill masih tetap masuk ke Indonesia walupun jumlahnya tidak besar dibandingkan tahun lalu," ujarnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top