Stok Sawit Malaysia Ditaksir Tergelincir ke Level Terendah

Persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia, sebagai produsen terbesar ke dua di dunia, diperkirakan jatuh pada April 2018 sebagai level terendah selama enam bulan.
Mutiara Nabila | 04 Mei 2018 16:29 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia, sebagai produsen terbesar ke dua di dunia, diperkirakan jatuh pada April 2018 sebagai level terendah selama enam bulan.

Jumlah persediaan minyak tergelincir 3,4% sejak Maret ke 2,24 juta metrik ton, berdasarkan perkiraan median survei Bloomberg dari 11 pertanian, perdagangan, dan analis. Penurunan selama empat bulan berturut-turut terlama sejak Mei 2016.

Berdasarkan survei tersebut, tercatat produksi minyak kelapa sawit mentah meningkat 2,5% hingga 1,61 juta ton, tertinggi sejak Desember. Sementara itu, ekspor mengalami penurunan 5,1% hingga 1,49 juta ton. Data resmi Badan Minyak Kelapa Sawit Malaysia akan dirilis pada 10 Mei mendatang.

Harga patokan jatuh hampir 7% pada tahun ini setelah India, pembeli minyak kelapa sawit terbesar, menaikkan bea impor untuk minyak kelapa sawit dan adanya ekspektasi pertambahan jumlah produksi pada penanaman di Indonesia dan Malaysia.

“Hasil produksi Malaysia pada April belum cukup untuk mendorong persediaan,” ujar Voon Yee Ping, Analis Kenanga Investment Bank Bhd. di Malaysia, dikutip dari Bloomberg, Jumat (4/5/2018).

Voon mengatakan produksi minyak sawit kemungkinan akan mengalami jeda musiman yang biasanya terjadi antara April dan Juni sebelum produksinya meningkat dan memuncak antara Agustus dan Oktober. “Harga minyak kelapa sawit bisa turun pada bulan-bulan tersebut, terutama jika tidak dibarengi dengan peningkatan permintaan, bisa memicu penumpukan pasokan,” ujarnya.

Persediaan pasokan diramalkan berada pada kisaran 2,13 juta ton dan 2,44 juta ton dengan seluruh responden kecuali dua yang memperkirakan adanya pengurangan produksi bulanan. Adapun, produksi diperkirakan berada pada kisaran 1,45 juta ton dan 1,68 juta ton, dengan tujuh responden memperkirakan alami pertumbuhan pada April.

Kecepatan produksi kemungkinan akan melambat pada akhir Mei pada Ramadan, kata Nagaraj Meda, Managing Director TransGraph Consulting Pvt. yang berbasis di Hyderabad, India.

Ramadan yang akan dimulai pada pertengahan Mei dan diikuti oleh perayaan Idulfitri pada 14 Juni mendatang dirayakan di Indonesia dan Malaysia sebagai negara mayoritas muslim, hal itu membuat sejumlah pegawai pertanian sawit libur pada masa tersebut.

Minat pada minyak kelapa sawit kedepan pada bulan Ramadan diperkirakan akan melemah dibandingkan dengan periode tahun lalu akibat bea India. Pembeli telah menumpuk pasokan minyak nabati pada Maret dan awak April sebelum Malaysia kembali memberlakukan pajak ekpor pada 1 Mei.

“Ekspor minyak kelapa sawit Malaysia kemungkinan sama atau sedikit lebih tinggi pada Mei ini,” ujar Meda. Harga kemungkinan akan stabil pada posisi di bawah 2.460 ringgit dan mendekati harga 2.250 ringgi salam sebulan atau dua bulan ke depan,” kata Meda.

Impor Malaysia diperkirakan berada pada posisi 40.000 ton pada April, lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah 39.626 pada bulan sebelumnya. Adapun, perkiraan konsumsi domestik berada pada kisaran antara 20.000 ton hingga 250.000 ton.

 

Tag : sawit, minyak sawit, harga cpo
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top