BPD Jambi Ingin Terbitkan Obligasi Rp1 Triliun

PT Bank Pembangunan Daerah Jambi berencana untuk menerbitkan obligasi untuk pertama kalinya sejak berdirinya perseroan pada kuartal kedua atau ketiga tahun ini dengan nilai Rp1 triliun.
Emanuel B. Caesario | 26 April 2018 09:00 WIB
Obligasi Ritel Indonesia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—PT Bank Pembangunan Daerah Jambi berencana untuk menerbitkan obligasi untuk pertama kalinya sejak berdirinya perseroan pada kuartal kedua atau ketiga tahun ini dengan nilai Rp1 triliun.

M. Yani, Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Jambi, mengatakan bahwa perseroan telah memperoleh peringkat A(idn) dari Fitch Ratings Indonesia. Perseroan juga sudah menunjuk MNC Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Trimegah Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Yani mengatakan, perseroan berencana untuk menerbitkan obligasi ini dalam tiga seri, masing-masing dengan tenor 3 tahun, 5 tahun dan 7 tahun. Namun, sejauh ini perseroan belum menentukan besaran kupon bagi masing-masing seri.

“Kita belum pernah mencoba menerbitkan obligasi, tahun lalu baru MTN. Jadi, ini pertama kali kami terbit obligasi,” katanya, Rabu (24/4/2018).

Yani mengatakan, perseroan memiliki rencana untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dalam 3 tahun hingga 5 tahun ke depan. Oleh karena itu, perseroan berupaya untuk mulai mengenal pasar modal dan memperbaiki struktur keuangan perseroan.

Adapun, dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk modal kerja penyaluran kredit. Tahun ini, perseroan menargetikan penyaluran kredit akan bertambah Rp1,7 triliun dibandingkan tahun lalu, menjadi sekitar Rp7 triliun.

Menurutnya, pertumbuhan kredit perseroan setiap tahun rata-rata mencapai 20% hingga 25%. Pertumbuhan kredit ini mengimbangi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang juga berkisar 25% per tahun.

Sejauh ini, 80% penyaluran kredit perseroan adalah untuk kredit konsumsi kalangan PNS, sementara 20% adalah kredit produktif. Perseroan berencana untuk terus meningkatkan penyaluran kredit produktif hingga mencapai 40% dari total kredit.

Perseroan memiliki capital adequacy ratio (CAR) sebesar 21% hingga 23% dan tingkat non performing loan sangat rendah sebesar 0,1%. Sementara itu, modal inti perseroan sebesar Rp1,2 triliun. Perseroan ingin meningkatkan modal inti hingga mencapai minimal Rp2 triliun untuk bisa go public.

Adapun, pada 2017 lalu perseroan membukukan laba bersih senilai Rp246 miliar, tumbuh 45% dari capaian tahun sebelumnya. Pada tahun ini, perseroan menargetkan laba akan tumbuh minimal 20%.

“Histori kita pertumbuhan laba selalu 30% - 45%. Jadi, kita coba untuk trennya tetap ke atas terus,” katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup