Sentimen Eksternal Dominan Picu Koreksi IHSG

Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai wajar karena tekanan sentimen eksternal. Di samping itu, indeks semakin mendekati valuasi rata-rata 5 tahun terakhir setelah melejit terlampau tinggi.
Hafiyyan | 26 April 2018 08:44 WIB
Karyawan berjalan di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA-Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai wajar karena tekanan sentimen eksternal. Di samping itu, indeks semakin mendekati valuasi rata-rata 5 tahun terakhir setelah melejit terlampau tinggi.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyampaikan, terkoreksinya IHSG kemarin disebabkan sejumlah sentimen eksternal. Pertama, of obligasi AS menembus 3%, atau level tertinggi 4 tahun.

Yield obligasi identik dengan perhitungan risiko sehingga peningkatannya dapat membuat Federal Reserve lebih agresif dalam mengerek suku bunga.

Kedua, laba korporasi AS di bawah ekspektasi sehingga menekan bursa Paman Sam dan berimbas ke pasar global. Ketiga, hawkish Fed yang menaikkan dolar AS berlanjut menekan harga komoditas, di samping faktor fundamental suplai serta permintaan yang belum kuat.

"Kalau kita lihat IHSG lebih tertekan oleh sentimen eksternal, terutama AS," tuturnya.

Sentimen hawkish Fed turut berimbas menekan rupiah dan mengganggu IHSG. Terbukti, invesor asing melakukan net sell sampai dengan Rp1,96 triliun pada hari ini.

Di sisi lain, kalangan bankir mulai ramai meminta suku bunga 7 Days Repo Rate (7DDR) dinaikkan agar rupiah kembali bertenaga. Pasalnya, bila BI melakukan intervensi terus-menerus, cadangan devisa bakal terkuras.

Hans menyampaikan, sebetulnya IHSG wajar mengalami koreksi ketika sudah melejit tinggi. Saat ini, PER IHSG mendekati level rata-rata 5 tahun di kisaran 19 kali. Hari ini, PER IHSG masih berada di posisi 21,59 kali.

Dia menyarankan, ketika IHSG mengalami koreksi dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi beli pelan-pelan. Pasalnya, melihat fundamental kinerja emiten maupun makro ekonomi, indeks masih berpotensi meningkat.

Setelah pada 2017 earning per share (EPS) emiten LQ45 naik sekitar 21%, pada 2018 pertumbuhan EPS-nya dapat mencapai 15%. Artinya, IHSG pun berpotensi menanjak pada tahun ini, meskipun tidak setinggi tahun lalu sebesar 19,99%.

"Kami perkirakan IHSG mencapai level 6.500--6.600 sampai akhir tahun. [Kenaikan] itu cukup bagus," paparnya.

Perihal rupiah, dia memprediksi dapat mencapai level Rp14.000 per dolar AS. Pasalnya, sentimen utama penggerak nilai tukar berasal dari eksternal. Adapun, BI dapat meredam gejolak dengan mengerek suku bunga acuan.

Pada penutupan perdagangan Rabu (25/4/2018), rupiah melemah 45 poin atau 0,32% menuju Rp13.919 per dolar AS. Harga merosot 2,67% sepanjang 2018.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup