Emiten Kapal: MBSS Bidik Kenaikan Pendapatan 30%

Emiten kapal pengangkut batu bara PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS) menargetkan pendapatan pada 2018 tumbuh 20%--30% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$82,14 juta--US$88,98 juta.
Hafiyyan | 25 April 2018 16:08 WIB
Karyawan melintas di antara monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Emiten kapal pengangkut batu bara PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS) menargetkan pendapatan pada 2018 tumbuh 20%--30% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$82,14 juta--US$88,98 juta.

Wakil Direktur Utama Mitrabahtera Segara Sejati Lucas Djunaidi mengungkapkan, pada 2018 kinerja perusahaan ditargetkan meningkat 20%--30% year on year (yoy) seiring dengan tren memanasnya harga batu bara. Artinya, MBSS membidik pendapatan sekitar US$82,14 juta--US$88,98 juta.

"Kita harapkan dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, bisa membukukan kinerja lebih baik. Kalau bisa [pembukuan laba menjadi] positif," tuturnya setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Rabu (25/4/2018).

Tahun lalu, MBSS masih membukukan rugi bersih US$9,18 juta, meskipun turun dari rugi bersih US$30,02 juta pada 2016. Pendapatan usaha pada 2017 naik 4,1% yoy menjadi US$68,45 dari sebelumnya US$65,75 juta.

Menurutnya, kinerja operasional pada periode kuartal I/2018 masih menantang akibat kondisi cuaca. Terkadang kapal pengangkut harus mencari pulau untuk merapat sementara, atau bahkan tidak mendapat izin berlayar dari otoritas pelabuhan.

Hal itu membuat volume pengangkutan batu bara berkurang. Namun, Lucas optimistis operasional pada kuartal II-IV/2018 mengalami perbaikan seiring dengan pulihnya cuaca dan produksi batu hitam dari sejumlah klien.

Untuk memacu pendapatan, perusahaan mengupayakan utilisasi kapal mencapai kisaran 80%--85% pada 2018 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 70%. Salah satu cara meningkatkan utilisasi ialah memperbesar kontrak jangka panjang dibandingkan spot.

Dengan sistem kontrak jangka panjang, rasio perjalanan pengkutan kapal lebih mudah diprediksi. Perusahaan juga memprioritaskan pelayaran jangka pendek untuk meminimalkan risiko.

Lucas menyampaikan, pada 2017 komposisi kontrak jangka panjang hanya sebesar 60%, sedangkan spot 40% dari total transaksi perseroan. Padahal, dalam masa keemasan MBSS pada 5 tahun lalu, kontribusi kontrak jangka panjang mencapai 90%.

"Pelan-pelan porsi [kontrak] jangka panjang akan kami naikan kembali. Tahun ini [kontrak jangka panjang] ditargetkan sekitar 80%, yang spot 20%," ujarnya.

Sejak awal tahun ini, perusahaan sudah mengantongi dua kontrak baru senilai US$80 juta. Rinciannya, kontrak berdurasi 5 tahun dengan PT Muji Line sebesar US$78 juta, dan kontrak pengakutan bijih nikel dan batu bara di Kendari sekitar US$2 juta dengan jangka waktu 1 tahun, plus opsi penambahan 1 tahun.

Pada 2018, MBSS berencana menambah jumlah kapal menjadi 79 set. Adapun, 9 kapal sudah dipesan oleh perusahaan.

Tahun lalu, jumlah kapal MBSS berkurang menjadi 69 set dari sebelumnya 75 set karena usia yang sudah tua. Anggaran pembelian sudah masuk ke dalam alokasi belanja modal 2018 sebesar US$27,2 juta.

Sumber pendanaan capex ialah pinjaman eksternal US$15 juta, dan sisanya kas internal. Pada 19 April 2018, perusahaan sudah menandatangani perjanjian kredit investasi dengan PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk.

Pinjaman dari bank bersandi saham SDRA itu sejumlah US$150 juta. Masa pengembalian pinjaman ialah 5 tahun dengan tingkat bunga berdasarkan LIBOR + 2%.

Tag : IHSG
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top