Adaro Energy (ADRO) Siapkan US$300 Juta untuk Bisnis Kokas

Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) mengalokasikan belanja modal senilai US$200 jutaUS$300 juta pada 2018 untuk pengembangan lini bisnis batu bara kokas.
Hafiyyan | 24 April 2018 15:29 WIB
Logo PT Adaro Energy, Tbk. - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA–Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) mengalokasikan belanja modal senilai US$200 juta–US$300 juta pada 2018 untuk pengembangan lini bisnis batu bara kokas.

Direktur dan Chief Financial Officer (CFO) Adaro Energy David Tendian menyampaikan, alokasi belanja modal pada 2018 paling besar digunakan untuk pembelian alat berat sekitar US$300 juta dan pengembangan Adaro MetCoal Companies (AMC) berkisar US$200 juta–US$300 juta.

"Capex paling besar untuk pembelian alat berat dan pengembangan AMC. itu yang mayoritas," paparnya setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Senin (23/4/2018).

Pada 2018 perusahaan menganggarkan capex sejumlah US$750 juta—US$900 juta yang bersumber dari kas internal. Nilai belanja modal itu meningkat signifikan dari 2017 sejumlah US$229 juta

ADRO sebelumnya telah memiliki 25% saham AMC sejak 2011. Perseroan kemudian mengakuisisi 75% saham AMC dari BHP Billiton dengan harga US$120 juta pada pertengahan 2016.

Pada 2017, total produksi AMC mencapai 900.000 ton, sedangkan penjualan sejumlah 740.000 ton. Konsumen batu bara kokas perseroan ialah Eropa, Jepang, India, China, dan Indonesia.

Direktur Adaro MetCoal Companies Priyadi menyebutkan, pada 2018 AMC menargetkan produksi dan penjualan sejumlah 1 juta ton. Saat ini perusahaan baru mengeksplorasi 1 konsensi dengan cadangan 54 juta juta ton, dari total 7 konsesi yang ada.

"Pada tahun ini kami memproduksi 1 jutaan ton dulu. Diperkirakan jumlah produksi kokas dapat semakin meningkat ke depannya," ujarnya.

Estimasi 1 juta ton batu bara kokas sudah termasuk di dalam target produksi batu hitam perseroan pada 2018 sebesar 54--56 juta ton. Volum itu meningkat dari realisasi 2017 sebesar 52,64 juta ton.

Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir menyampaikan, perseroan semakin ekspansif di dalam bisnis kokas. Produk tersebut akan melengkapi komoditas andalan ADRO sebelumnya, yaitu batu bara thermal.

"Ke depannya Adaro akan memiliki dua produk batu bara unggulan, yakni thermal dan kokas. Produk kokas menjadi diverisifikasi bisnis [batu bara] thermal yang digunakan untuk pembangkit listrik dan pabrik semen," paparnya.

Ekspansi bisnis kokas menurutnya sangat menarik dalam jangka panjang seiring dengan pertumbuhan bisnis baja. Pria yang akrab disapa Boy ini meyakini, Indonesia akan menjadi negara industrialis, sehingga membutuhkan baja dalam jumlah banyak.

Boy menyebutkan, saat ini perusahaan masih dalam proses akuisisi tambang kokas di Australia. Namun, dia belum bisa memberikan informasi lebih lanjut karena berkaitan dengan regulasi negara setempat.

"Akuisisi dalam proses sekarang. Masih ada step-step yang dijalani, berkaitan dengan regulasi di Australia. Jadi, sekarang belum layak untuk berkomentar lebih lanjut. Mohon doanya," tuturnya.

Akuisisi tambang di Australia menjadi satu hal yang membanggakan karena Adaro berupaya menjadi perusahaan batu bara kelas dunia. Dia pun berharap ke depannya akan semakin banyak perusahaan domestik yang tampil di kancah internasional.

Menurutnya, dengan akuisisi tambang di Negeri Kangguru, Adaro dapat belajar cara mengeksplorasi kokas karena pihak asing lebih berpengalaman.

Mengutip informasi Reuters, perusahaan tambang Australia, Rio Tinto, menawarkan dua aset tambang batu baranya, yakni Hail Creek dan Kestrel kepada tiga penawar. Nilai kedua aset tambang yang sebagian besar menghasilkan batu bara kokas itu mencapai US$2,5 miliar.

Dari tiga pihak yang mengajukan penawaran kepada Rio Tinto, salah satunya ialah EMR Capital dan PT Adaro Energy Tbk. EMR Capital adalah perusahaan ekuitas swasta yang mengkhususkan diri dalam investasi ke perusahaan terkait sumber daya alam.

Target EBITDA

Boy menyampaikan, perusahaan merevisi target EBITDA 2018 menjadi US$1,1 miliar–US$1,3 miliar dari estimasi sebelumnya US$1,3 miliar–US$1,5 miliar. Pasalnya, pemasukan perusahaan berpotensi berkurang akibat penetapan harga batu bara domestik senilai US$70 per ton.

Perusahaan memiliki dua strategi untuk tetap memacu pendapatan. Pertama, meningkatkan penjualan produk premium ke pasar eskpor seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Malaysia.

Strategi kedua ialah melakukan efisiensi seperti melakukan hedging terhadap bahan bakar. Pasalnya, komponen terbesar beban operasional berasal dari fuel.

"Kalau harga batu bara global dan domestik di luar kemampuan kami. Makanya kami dari internal melakukan apa yang bisa dilakukan, seperti efisiensi cost," paparnya.

Tag : adaro
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top