Rupiah Sentuh Level Terendah Dalam 2 Tahun Lebih

Pelemahan kinerja nilai tukar rupiah berlanjut hingga menyentuh level terendahnya dalam lebih dari dua tahun, di tengah depresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 23 April 2018 17:55 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan kinerja nilai tukar rupiah berlanjut hingga menyentuh level terendahnya dalam lebih dari dua tahun, di tengah depresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Pada perdagangan hari ini, Senin (23/4/2018), rupiah ditutup melemah 0,59% atau 82 poin di Rp13.975 per dolar AS, setelah dibuka dengan depresiasi 15 poin atau 0,11% di Rp13.908 per dolar AS.

Rupiah telah melemah selama empat hari perdagangan terakhir sebesar 209 poin, sejak mampu ditutup terapresiasi 14 poin di posisi 13.766 pada perdagangan Selasa (17/4/2018). Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.886 – Rp13.982 per dolar AS.

Hampir seluruh mata uang di Asia melemah sore ini, dipimpin dolar Taiwan yang melemah 0,61%, diikuti rupiah dan rupee India yang terdepresiasi 0,54% pada pukul 16.53 WIB. Di sisi lain, dolar Hong Kong terpantau terapresiasi sendiri meski hanya dengan penguatan 0,01%.

Sementara itu, penguatan indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama berlanjut dan terpantau naik 0,4'% atau 0,367 poin ke level 90,683 pada pukul 16.43 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan tipis 0,038 poin atau 0,04% di level 90,354, setelah pada perdagangan Jumat (20/4) menguat 0,42% atau 0,376 poin dan ditutup di posisi 90,316.

Indeks dolar telah naik sekitar 1,258 poin per hari ini pukul 16.43 WIB, sejak berakhir melemah 0,375 poin di level 89,425 pada perdagangan Senin (16/4/2018).

Rupiah memperpanjang pelemahannya mencapai level terendah dalam lebih dari dua tahun, bersama depresiasi sebagian besar mata uang negara-negara berkembang di Asia saat dolar AS menguat akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Mata uang dan saham emerging market lanjut melemah setelah lonjakan imbal hasil obligasi AS membayangi meredanya tensi perdagangan dan geopolitik. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun berada di kisaran level 2,96% setelah naik 13 basis poin pekan lalu.

“Investor lebih mencermaskan kinerja keuangan perusahaan dan kenaikan inflasi dalam jangka pendek daripada risiko geopolitik,” ujar Diana Mousina, ekonomi senior di AMP Capital. “Pasar akan fokus pada naiknya imbal hasil obligasi pekan ini di AS.”

Sementara itu, menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, perbaikan pada ekonomi AS, tensi perdagangan antara AS dan China, serta meningkatnya harga minyak telah membebani sebagian besar mata uang, termasuk rupiah.

“Selain memantau perkembangan rupiah di pasar, BI juga akan melakukan bauran kebijakan untuk mempertahankan stabilitas moneter,” ujar Dody, dikutip Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top