BOS BEI Bilang Asing Pindah ke Obligasi, Berikut Komentar Sejumlah Analis

Kalangan analis menilai investor asing cenderung lebih meminati instrumen investasi di Indonesia yang minim resiko selama masa-masa tingginya gejolak ekonomi global saat ini, sehingga permintaan surat utang tetap tinggi di saat asing terus menjual kepemilikan sahamnya.
Emanuel B. Caesario | 20 April 2018 07:46 WIB
Karyawan berjalan di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Kalangan analis menilai investor asing cenderung lebih meminati instrumen investasi di Indonesia yang minim resiko selama masa-masa tingginya gejolak ekonomi global saat ini, sehingga permintaan surat utang tetap tinggi di saat asing terus menjual kepemilikan sahamnya.

Sepanjang tahun berjalan hingga Kamis (19/4/2018), investor asing telah melakukan aksi jual terhadap instrumen saham di Bursa Efek Indonesia senilai Rp27,35 triliun.

Sementara itu, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) hingga Rabu (18/4/2018) telah bertambah sebanyak Rp34,83 triliun.

Ifan M. Ihsan, Kepala Divisi Operasional Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), mengatakan bahwa investor saat ini cenderung lebih sensitif terhadap gejolak yang terjadi di pasar saham akibat sentimen eksternal.

Oleh karena itu, mereka cenderung menjual kepemilikannya di pasar saham Indonesia untuk membeli aset safe haven atau aset yang aman, seperti dolar Amerika Serikat atau emas. Atau, pilihan lainnya adalah mencari instrumen yang resikonya lebih rendah.

Sementara itu, pemerintah secara rutin terus menggelar lelang SBN secara mingguan sehingga pasokan di pasar terus bertambah. Instrumen surat utang pemerintah ini memiiki tingkat risiko yang jauh lebih rendah, apalagi setelah mendapat peningkatan peringkat dari berbagai lembaga pemeringkat.

“Beberapa investor memang benar-benar keluar dari pasar kita, tidak selalu switching ke obligasi. Namun, karena pasokan di obligasi terus bertambah, masih ada saja investor asing yang masuk ke kita, tetapi nilai net buy-nya tidak sebesar periode sebelumnya,” katanya, Kamis (19/4/2018).

Ifan menilai, pasar obiligasi pun saat ini masih dalam tren bearish. Bahkan, peningkatan peringkat oleh Moody’s pekan lalu hanya berdampak minim terhadap pasar. Hal ini disebabkan karena pasar mengantisipasi peningkatan suku bunga The Fed yang akan dilakukan lebih cepat.

Namun, dibandingkan saham, obligasi jauh lebih aman. Tingkat bunga yang diterima investor di pasar obligasi pun masih tergolong tinggi, jauh lebih baik dibandingkan return negatif yang dialami pasar saham.

Menurutnya, bila nantinya pasar membaik dan kembali stabil seiring meredanya gejolak pasar global, baik pasar saham maupun pasar obligasi akan sama-sama kembali dibanjiri permintaan dari investor asing.

Kevin Juido, Analis Paramita Alfa Sekuritas, mengatakan bahwa cukup beralasan bila investor asing tetap konsisten melakukan aksi beli di pasar obligasi Indonesia di saat mereka menjual di pasar saham.

Selain tingkat yield yang cukup tinggi, perekonomian Indonesia pun masih dalam keadaan yang sangat positif dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Utang yang ditarik pemerintah pun lebih banyak untuk kegiatan produktif, seperti pembangunan infrastruktur, yang memberikan manfaat lebih lanjut bagi prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Hal tersebut memberi optimisme bagi investor asing bahkan untuk masuk di tenor panjang sekalipun. Hal ini justru membuktikan tingkat kepercayaan investor yang sejatinya masih sangat tinggi terhadap Indonesia.

“Sekarang para investor cenderung bersikap moderat, dengan semua sentimen negatif yang ada sekarang mereka merasa lebih baik wait and see. Namun, kalau dana menganggur juga untuk apa? Dia harus cari instrumen yang lebih moderat,” katanya.

Kevin menilai, pasar akan menunggu hasil kinerja ekonomi Indonesia di kuartal-kuartal mendatang untuk menentukan keputusan apakah akan kembali masuk di pasar Indonesia ataukan tidak. Menurutnya, bila kondisi membaik, saham-saham blue chip yang sudah mengalami koreksi cukup dalam akan menjadi saham-saham pertama yang paling banyak diincar.

Kiswoyo Adi Joe, Analis Riset Narada Asset Management, mengatakan bahwa aksi jual investor asing agak mengherankan sebab aksi jual ini sudah terjadi sejak tahun lalu sehingga kepemilikan mereka sudah sangat tipis. Padahal, bobot saham Indonesia dalam sejumlah indeks global seperti MSCI tidak berubah.

Manajer investasi asing yang mengatur portofolionya berdasarkan acuan indeks tersebut tentu perlu secara seimbang tetap mempertahankan kepemilikannya pada instrumen saham Indonesia.

“Itu sedikit aneh, apakah mereka sudah siapkan pegangan atau tidak. Kalau mereka mau nekat pun, begitu nanti saham kita naik mereka harus kejar dengan beli besar-besaran,” katanya.

Tito Sulistio, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, mengatakan bahwa aksi jual investor asing tidak saja terjadi di bursa saham Indonesia, tetapi di negara asia pasifik lainnya. Namun, menariknya investor asing justru masih mencatatkan beli bersih di pasar obligasi.

Sepanjang tahun berjalan, aksi jual investor asing di bursa Indonesia sudah mencapai sekitar US$2 miliar, atau sekitar Rp27,4 triliun dengan kurs Rp13.500. Sementara itu, bursa Filipina juga mengalami net sell US$5 miliar, Korea Selatan US$1 miliar, Taiwan US$3,5 miliar, dan Thailand US$2 miliar.

Tito mencatat, di saat yang sama arus masuk investor asing di pasar obligasi Indonesia, khususnya di surat berharga negara sepanjang tahun berjalan mencapai US$2,58 miliar atau Rp34,83 triliun dengan kurs Rp13.500.

“Jadi, uang asing itu tidak keluar tetapi bertambah, switch ke obligasi. Saya masih senang melihatnya. Walaupun ada US$2 miliar yang keluar, tetapi obligasi naik US$2,58 miliar, yang penting asing tidak keluar,” katanya, Kamis (19/4/2018).

Tag : saham, Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top