REKOMENDASI SAHAM: Barito Pacific (BRPT) Tembus Rp2.800?

tengah penurunan konsumsi listrik nasional, PT Barito Pacific Tbk. tidak gentar untuk mulai menjadi pemain sektor pembangkit energi. Sejumlah analis menilai, perusahaan dengan kode saham BRPT itu berpotensi menjadi pemain besar di sektor energi dalam negeri. Lalu, seberapa besar pengaruhnya terhadap saham perseroan?
Dara Aziliya | 20 April 2018 07:35 WIB
Barito Pacific

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah penurunan konsumsi listrik nasional, PT Barito Pacific Tbk. tidak gentar untuk mulai menjadi pemain sektor pembangkit energi. Sejumlah analis menilai, perusahaan dengan kode saham BRPT itu berpotensi menjadi pemain besar di sektor energi dalam negeri. Lalu, seberapa besar pengaruhnya terhadap saham perseroan?

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham perusahaan yang didirikan taipan Prajogo Pangestu tersebut telah meningkat 15,56% selama tahun berjalan. Pada penutupan perdagangan Kamis (19/4), harga saham BRPT naik 4,84% atau 120 poin ke level Rp2.600.

Barito Pacific membukukan kenaikan pendapatan bersih sebesar 25% sepanjang 2017 menjadi US$2,45 miliar dari tahun sebelumnya yang sebesar US1,96 miliar. Segmen petrokimia berkontribusi US$2,41 miliar atau 98,30% dari total pendapatan.

Barito Pacific saat ini dalam proses mengakuisisi Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHPL), yang memiliki sejumlah kontrak penting proyek panas bumi.

Manejemen menargetkan akusisi 66,67% saham SEGHPL dapat rampung pada Juni 2018. Setelah akuisisi rampung, Barito Pacific memiliki dua lini bisnis utama, yakni petrokimia melalui PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., dan panas bumi lewat Star Energy.

Analis Sucor Sekuritas Akshay Rayan Sugandi menyampaikan bahwa dalam jangka pendek, akuisisi Star Energy akan membuat BRPT mendapatkan ceruk kas baru. Dukungan pemerintah Indonesia atas pengembangan sumber energi terbarukan akan menjadi katalis positif bagi bisnis Barito Pacific.

Dalam jangka panjang, BRPT dinilai memiliki strategi bisnis yang mapan melalui kontrak joint venture dengan Indonesia Power, juga di sektor energi. Pernyataan PLN yang menyebut kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik akan tumbuh 82% selama 2017—2026 pun menjadi katalis positif bagi usaha patungan tersebut.

“Yang juga harus dicatat adalah selama ini pendapatan BRPT bergantung pada anak usahanya PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Meski harga mintak perlahan meningkat, Chandra Asri memiliki sejumlah rencana ekspansi hingga beberapa tahun ke depan,” ungkap Akshay.

Tahun ini, sebagian besar pendapatan BRPT diprediksi masih akan disumbangkan oleh Chandra Asri. Namun dengan model bisnis yang kuat dan lini diversifikasi yang prospektif, Akshay merekomendasikan saham BRPT dengan target harga sebesar Rp2.500.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Taye Shim menyampaikan permintaan produk petrokimia akan terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik dan global. Kenaikan pendapatan Chandra Asri, juga akan secara langsung mengerek pendapatan BRPT.

“Chandra Asri secara bertahap akan meningatkan kapasitas produksinya, terutama pabrik Butadiena baru yang akan beroperasi pada kuartal II/2018 ini. Pasarnya cukup besar seperti pabrik ban, pabrik karet sintetis, pabrik sarung tangan, dan pabrik alas kaki,” ungkap Taye.

Dengan didukung ekspansi Chandra Asri, laba bersih BRPT diprediksi akan meningkat pada kisaran 11%. Mirae merekomendasikan hold saham BRPT dengan target harga Rp2.850.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
barito pacific

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top