Produksi Merosot, Nikel Melambung ke Level US$15.000

Harga nikel menyentuh level tertinggi dalam 3 tahun di US$15.000 per ton seiring dengan merosotnya produksi di tengah kekhawatiran pasar terhadap menyusulnya pemberlakuan sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia yang berpotensi mengganggu pasokan global.
Eva Rianti | 19 April 2018 20:59 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga nikel menyentuh level tertinggi dalam 3 tahun di US$15.000 per ton seiring dengan merosotnya produksi di tengah kekhawatiran pasar terhadap menyusulnya pemberlakuan sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia yang berpotensi mengganggu pasokan global.

Pada penutupan perdagangan Rabu (18/4), harga nikel kontrak teraktif April 2018 di London Metal Exchange (LME) ditutup melesat 1.060 poin atau 7,46% menjadi US$15.275 per ton. Angka ini merupakan level tertinggi dalam 3 tahun. Secara year to date (ytd), harga telah tumbuh 19,71%.

Dilansir dari Bloomberg, nikel yang biasa digunakan dalam pembuatan baja dan baterai telah mendapatkan sentimen positif dari merosotnya produksi hingga 18% di Vale SA, salah satu produsen nikel terbesar kedua di dunia.

Di samping itu, BHP Billiton, perusahaan pertambangan nikel terbesar di dunia memproyeksikan akan booming—nya penggunaan kendaraan listrik yang mendorong permintaan yang kuat pada komoditas nikel. Baterai yang menggunakan nikel diperkirakan akan mendominasi pada 10—15 tahun mendatang.

Adapun, Commonwealth Bank of Australia (CBA) menuturkan bahwa di samping karena jatuhnya produksi di perusahaan tambang papan atas tersebut dan proyeksi permintaan jangka panjang, harga nikel yang melambung hingga ke level US$15.000 per ton juga didorong oleh spekulasi sanksi Amerika Serikat yang melebar terhadap Rusia, termasuk kepada produsen terkemuka MMC Norilsk Nickel PJSC.

“Ada kemungkinan nikel terkena dampak jika ada putaran baru sanksi AS terhadap Rusia,” kata Colin Hamilton, managing director dan analis komoditas di BMO Capital Markets Ltd, seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (19/4/2018).

Hamilton juga memperkirakan hal yang sama terjadi pada paladium yang telah mengalami reli yang cukup tinggi karena Rusia juga merupakan produsen logam mulia tersebut.  Menurutnya, sanksi apapun terhadap Norilsk Nickel PJSC dapat menghambat output menuju defisit.

Kendati demikian, para analis juga menilai bahwa adanya kemungkinan lonjakan harga yang terbatas seiring dengan ekspektasi pasokan yang berlebihan atas dorongan kenaikan harga .

“Kami memproyeksikan harga rata—rata nikel tahun ini akan berada di level US$6,19 per pound [US$13.700 per ton] dan sebesar US$5,75 per pound [US$12.700 per ton],” papar Viver Dhar, analis CBA.

Dhar mengekspektasikan bahwa harga nikel kemungkinan melayang tidak terlalu tinggi selama 12—18 bulan ke depan di tengah peningkatan output bijih besi nikel dan nikel pig iron (NPI).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, nikel

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top