Ini Alasan Kimia Farma (KAEF) Masuk ke Bisnis Rumah Sakit

Perseroan farmasi pelat merah PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tengah melakukan due diligence untuk mengakuisisi rumah sakit sejalan dengan rencana ekspansi anorganik perseroan pada 2018.
M. Nurhadi Pratomo | 19 April 2018 19:35 WIB
Dirut PT Kimia Farma Tbk Honesti Basyir ( kanan) bersama CEO Marei Bin Mahfouz (MBM) Group Mahfoudz Bin Marei Bin Mahfouz bersiap menandatangani naskah kerja sama Shareholder Agreement, di Jakarta, Senin (5/3/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com,JAKARTA — Perseroan farmasi pelat merah PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tengah melakukan due diligence untuk mengakuisisi rumah sakit sejalan dengan rencana ekspansi anorganik perseroan pada 2018.

Direktur Utama Kimia Farma Honesti Basyir menjelaskan bahwa masih dilakukan proses due diligence untuk rencana akuisisi tahun ini. Menurutnya, tahapan penjajakan tersebut dilakukan terhadap satu perseroan dan tiga rumah sakit.

Honesti menargetkan dapat mengakuisisi satu perseroan farmasi dan satu rumah sakit. Perseroan menganggarkan dana Rp2,3 triliun untuk rencana aksi korporasi tersebut. “Saat ini kami belum memiliki rumah sakit. Akuisisi rumah sakit diperlukan untuk melengkapi portofolio bisnis Kimia Farma,” jelasnya di Jakarta, Kamis (19/4).

Dia mengatakan perseroan tidak akan masuk ke segmen rumah sakit premiun. Akan tetapi, emiten berkode KAEF itu memilih masuk kategori rumah sakit umum. Honesti belum membeberkan berapa nilai akuisisi rumah sakit tersebut. Namun, diperkirakan nilai investasi yang dikucurkan mencapai Rp300 miliar-Rp500 miliar.

Direktur Keuangan Kimia Farma I.G.N Suharta Wijaya mengatakan perseroan membidik rumah sakit swasta maupun milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ditargetkan, rencana tersebut dapat rampung pada Semester II/2018.

Sebagai modal akuisisi, sambungnya, emiten berkode KAEF itu telah mendapatkan dana segar melalui penerbitan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) pada Maret 2018. Dari situ, perseroan mengantongi Rp600 miliar.

Suharta mengatakan sejauh ini dana yang didapat baru digunakan untuk keperluan ekspansi organik seperti pembangunan pabrik. Sisanya, akan digunakan sebagai modal untuk keperluan akuisisi.

Dia menyebut Kimia Farma belum memiliki rencana penggalangan dana tambahan melalui pasar modal. Sebagai gantinya, perseroan akan mengandalkan pinjaman medium term atau long term dari perbankan pelat merah.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno mengungkapkan perseroan saat ini belum memiliki lini bisnis rumah sakit. Selain akuisisi, KAEF juga tengah berencana membangun rumah sakit di Jakarta.“Sedang dalam perizinan untuk pembangunan rumah sakit di Jakarta,” imbuhnya.

Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia menilai langkah KAEF mengakuisisi rumah sakit sebagai upaya diversifikasi. Apalagi, divisi farmasi memiliki kontribusi penjualan yang cukup besar melalui saluran tersebut.

Sebagai catatan, tahun ini KAEF menganggarkan capex Rp3,5 triliun. Dengan demikian, sisa anggaran untuk keperluan ekspansi anorganik akan digunakan sebagai modal ekspansi organik.

Sebelumnya, Kimia Farma juga telah menambah anak usaha baru di Arab Saudi melalui aksi korporasi akuisisi 60% saham Dawaa Medical Limited Company.

Kimia Farma melakukan akuisisi dengan penyertaan modal atau investasi sebesar Rp130 miliar. Aksi korporasi tersebut dilakukan dengan skema pemesanan saham baru Dawaa Medical Limited Company, anak usaha, Marei Bin Mahfouz (MBM).

Dengan adanya akuisisi tersebut, Dawaa berubah nama menjadi PT Kimia Farma Dawaa. Saat ini, tercatat anak usaha tersebut memiliki 31 gerai ritel di Arab Saudi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kimia farma

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top