Permintaan Meningkat, Harga Nikel Menguat 1,64%

Harga nikel menguat diperkirakan akibat permintaan yang kebanyakan datang dari produsen barang elektronik meningkat.
Mutiara Nabila | 16 April 2018 18:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga nikel menguat diperkirakan akibat permintaan yang kebanyakan datang dari produsen barang elektronik meningkat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (13/4/2018) harga nikel tercatat naik 1,64% atau 225 poin ke US$13940 per ton. Secara year-to-date­ (ytd) tumbuh pesat sebanyak 9,25%.

Sebelumnya di Multi Commodity Exchange (MCX) India juga mencatat nikel untuk kontrak teraktif April mengalami kenaikan sebanyak 0,44% menjadi 908.90 rupee. Kemudian untuk pengiriman logam kontrak teraktif Mei juga naik 3,20 poin atau 0,19% menjadi 91,55 rupee.

Nikel biasanya digunakan sebagai bahan campuran untuk barang-barang yang terbuat dari logam yang dimanfaatkan oleh industri produksi pesawat, tekstil, turbin pembangkit listrik, serta dapat digunakan sebagai pelindung baterai dan bahan antikarat pada barang elektronik.

Mengutip Bloomberg pada Senin (16/4/2018), Citigroup Inc. mengatakan para investor dari perusahaan pengolah nikel sebaiknya menambah stok pada tahun mendatang, karena harga nikel diprediksi kembali turun hingga di bawah US$13.000 pada 2019.

Analis bank Max Layton berpandangan bahwa nikel bisa menjadi bahan logam yang memicu perkembangan ekonomi apabila dilihat dari segi elastisitas pendapatan dan perkembangan industri kendaraan dan listrik.

Laporan Citigroup mengungkapkan, pada tahun ini harga nikel diprediksi akan lebih stabil dibandingkan setelah mengalami defisit pada 2017. Hal itu terjadi karena pasokan nikel menguat dari Indonesia dan China, sementara produksi stainless-steel berkurang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nikel

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top