AKUISISI 51% SAHAM FREEPORT: Pendanaan Inalum Sudah Aman

PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) memastikan sumber pendanaan untuk mengakuisisi 51% saham PT Freeport Indonesia sudah ada. Salah satunya dari pinjaman sindikasi perbankan.
Hafiyyan | 13 April 2018 12:55 WIB
Ilustrasi - inalum.co.id

Bisnis.com, JAKARTA—PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) memastikan sumber pendanaan untuk mengakuisisi 51% saham PT Freeport Indonesia sudah ada. Salah satunya dari pinjaman sindikasi perbankan.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, perseroan akan melakukan pencarian dana lebih besar pada 2018 untuk pembelian saham tambang Grasberg milik PTFI. Seperti diketahui, perseroan akan mengambil saham PTFI hingga 51% yang mewakili kepemilikan pemerintah Indonesia.

Sumber dana akuisisi sebagian berasal dari pinjaman sindikasi perbankan. Salah satu bank tersebut berasal dari Jepang karena tingkat suku bunga yang paling rendah.

“Pinjaman sih pasti dapat. Sumbernya ada sindikasi perbankan, yang bersedia di atas 5 bank. Kami memang melakukan penawaran pinjaman ke Bank Jepang, karena rate-nya paling murah,” tuturnya, Kamis (12/4/2018).

Menurutnya, jumlah kebutuhan dana akuisisi sudah ada, walaupun belum bisa disebutkan ke publik. Kepastian jumlah pendanaan menjadi salah satu sentimen bahwa Inalum mampu melakukan transaksi tersebut.

Saat ini, Inalum masih berkoordinasi dan bernegosiasi dengan seluruh pihak yang berkaitan dengan transaksi akuisisi. Ditargetkan proses itu rampung pada Juni 2018.

“Saya rasa Juni, seperti arahan Pak Jonan [Menteri ESDM Ignasius Jonan]. Negosiasi transaksi tentunya lebih alot dari negosiasi beli kain di pasar,” ujarnya.

Dalam mengakuisisi PTFI, Inalum akan mengambil alih 40% hak partisipasi Rio Tinto. Inalum juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten Mimika yang akan memiliki 10% saham PTFI setelah divestasi.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan, skema pendanaan untuk mengakuisisi 51% saham PTFI dipastikan setelah jumlah biayanya sudah ada.

Perundingan nilai akuisisi dilakukan antara Inalum dengan tiga menteri, yakni Menteri ESDM, Menteri Keuangan, dan Menteri BUMN.

“Nanti setelah bertemu tiga menteri, dicapai [nilai akuisisi] apakah terlalu mahal atau bagaimana,” paparnya.

Menurut Fajar, negosiasi akuisisi PTFI saat ini dilakukan antara Inalum dengan Rio Tinto. Pasalnya, Freeport sudah menyerahkan persoalan tersebut kepada Rio Tinto.

Terkait target kapan rampungnya waktu akuisisi, pemerintah tentunya berharap secepatnya agar pengurusan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI bisa dapat diperpanjang. Namun, permasalahan teknis yang dinegosiasikan memang cukup banyak, seperti permasalahan lingkungan dan sebagainya.

Fajar menambahkan, pemberian dividen dari sub-Holding BUMN Tambang tidak serta merta digunakan Inalum sebagai alokasi akuisisi PTFI. Pasalnya, jumlah dividen tersebut terbilang kecil dibandingkan total nilai transaksi.

“Enggak cukup jumlahnya [kalau pakai dividen]. Dividen kan kecil, jadi pakai ekuitas [Inalum] juga,” ujarnya.

Direktur Utama PT Antam Tbk. (ANTM) Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan, tidak ada uang dari sub-Holding BUMN Tambang yang ditarik induk usaha untuk mengakuisisi PTFI. Inalum selaku induk holding hanya menggunakan neraca keuangan keseluruhan untuk mempermudah proses fundraising.

“Hanya balance sheet atau neraca keuangan [secara holding] saja yang dipakai untuk fundraising itu,” tuutrnya.

Dalam jangka panjang, justru Inalum dapat memberikan dividen dari Freeport untuk pengembangan anak usahanya, seperti ANTM, TINS, dan PTBA. Hal ini menjadi salah satu peran holding dalam membantu pengembangan anak usaha.

Tag : inalum, Freeport
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top