Lelang SUN: Seri 10 Tahun Akan Banyak Diincar

Bank Maybank Indonesia memperkirakan permintaan terbesar investor dalam lelang surat utang negara atau SUN yang digelar hari ini, Selasa (27/3/2018) akan masuk pada seri bertenor 10 tahun atau FR0064.
Emanuel B. Caesario | 27 Maret 2018 12:22 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Bank Maybank Indonesia memperkirakan permintaan terbesar investor dalam lelang surat utang negara atau SUN yang digelar hari ini, Selasa (27/3/2018) akan masuk pada seri bertenor 10 tahun atau FR0064.

Lima seri SUN ditawarkan pada lelang terkahir untuk kuartal pertama 2018. Lima seri yang akan dilelang, yaitu SPN03180628, SPN12190314, FR0064 dengan kupon 6,125%, FR0065 dengan kupon: 6,625% dan FR0075 dengan kupon 7,500%.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa seri FR0064 dapat menerima permintaan tertinggi dalam lelang kali ini. 

Anup mengatakan, permintaan selama lelang konvensional tersebar di antara seri yang ditawarkan. Namun, jika segmennya dipersempit menjadi hanya instrumen pasar uang kurang dari 1tahun dan obligasi lebih dari 1 tahun, permintaan total peserta lelang pada lelang konvensional sejak awal tahun hingga 13 Maret, dalam instrumen pasar uang dicatat kira-kira 43% dari total tawaran yang masuk sementara sisanya pada obligasi lebih dari 1 tahun.

Secara total, 44% dari penyerapan pemerintah  selama lelang konvensional sejak awal tahun hingga 13 Maret, adalah pada instrumen pasar uang kurang dari 1 tahun, sedangkan sisanya adalah obligasi lebih dari 1 tahun.

"Oleh karena itu, kami dapat terus mengharapkan bahwa 40% - 50% dari penawaran yang masuk selama lelang esok [hari ini] berada dalam instrumen pasar uang. Kami juga mengharapkan FR0064 dengan seri 10 tahun benchmark dapat menerima permintaan terbesar selama lelang esok [hari ini] dengan pertimbangan bahwa hasil FR0064 mendekati sub-7% sehingga lebih menarik bagi pembeli," kata Anup dalam risetnya, Senin (26/3/2018).

Anup mengatakan, yield seri konvensional yang ditawarkan saat ini berada di atas yield rata-rata tertimbang yang diberikan pada lelang SUN 13 Maret 2018 lalu, kecuali untuk seri FR0065 (seri B 15 tahun). Kemarin, yield FR0065 ditutup pada 7,033% atau di bawah yield rata-rata tertimbang pada lelang sebelumnya yakni 7,340.

Anup menilai, ada sejumlah faktor yang berpotensu menyebabkan yield rata-rata tertimbang yang diberikan pemerintah dalam lelang kali ini akan meningkat.

Faktor-faktor tersebut antara lain meningkatnya kewaspadaan  terhadap perang perdagangan AS-China, naiknya harga minyak dunia (yang telah menyebabkan naiknya bahan bakar non-subsidi di Indonesia), dan ekspektasi belanja subsidi Indonesia yang lebih besar.

Selain itu, turut menjadi faktor juga pelebaran defisit neraca perdagangan pada kuartal I/2018, yang mana defisit neraca perdagangan telah berjalan untuk tiga bulan berturut-turut dan Maybank Indonesia mengharapkan defisit neraca perdagangan kuartal I/2018 sebesar US$1miliar.

Pelebaran 2018 defisit anggaran negara tahun ini juga turut diwaspadai. Maybank Indonesia melihat defisit anggaran negara 2018 akan sekitar  2,5% dari PDB vs asumsi pemerintah sebesar 2,2% dari PDB.

"Selain itu, tidak akan ada data fundamental yang keluar baik dari global maupun domestik minggu ini. Oleh karena itu, kita melihat bahwa yield rata-rata tertimbang yang diberikan pada tanggal 27 Maret konvensional berpotensi lebih tinggi dibandingkan dengan  lelang 13 Maret," katanya.

"Kami juga mengharapkan permintaan masuk yang lebih rendah selama lelang ini meskipun permintaan akan tetap tinggi. Kami percaya bahwa permintaan akan oversubscrib 1,8 kali - 2,8 kali dari target minimal penerbitan yang terindikasi sebesar Rp17 triliun," lanjutnya.

Dirinya menilai, yield rata-rata tertimbang yang diberikan pada lelang kali ini  adalah sebagai berikut:

- SPN03180628 : 4,170% - 4,270%

- SPN12190314 : 5.110% - 5.210%

- FR0064 : 6,770% - 6,870%

- FR0065 : 6,970% - 7,070%

- FR0075 : 7,330% - 7,430%

Adapun,  pada lelang SUN 13 Maret, pemerintah menerima permintaan senilai Rp46,47 atau kelebihan permintaan sekitar 2,73 kali dari target penerbitan indikatifnya sebesar Rp17 triliun. Namun, pemerintah memberikan penawaran senilai Rp23,45 triliun. Sebagian besar seri yang ditawarkan diberikan yield rata-rata tertimbang yang terlihat meningkat dibandingkan dengan lelang 27 Februari.

 

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top