Bumi Resources (BUMI) Bidik Produksi 92 Juta Ton Batu Bara

Emiten pertambangan batu bara PT Bumi Resources Tbk., (BUMI) menargetkan volume produksi pada 2018 sebesar 92 juta ton, naik 9,52% year on year (yoy) dari realisasi 2017 sebesar 84 juta ton.
Hafiyyan | 27 Maret 2018 21:09 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA-Emiten pertambangan batu bara PT Bumi Resources Tbk., (BUMI) menargetkan volume produksi pada 2018 sebesar 92 juta ton, naik 9,52% year on year (yoy) dari realisasi 2017 sebesar 84 juta ton.

Direktur & Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengungkapkan, pada 2017 perusahaan merealisasikan penjualan sejumlah 84 juta ton dari kedua anak usahanya, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin.

Sebelumnya, perusahaan menargetkan produksi batu bara pada 2017 sebesar 84 juta-90 juta ton dibandingkan 2016 sejumlah 87,7 juta ton. Namun, operasional penambangan masih terkendala cuaca hujan.

"Atas kinerja penjualan 2017, kami menerima pendapatan secara konsolidasi US$4,7 miliar. Tapi laporan keuangan resmi baru keluar Kamis [29/3/2018] nanti," ujarnya, Selasa (27/3/2018).

Berdasarkan laporan Per September 2017, kepemilikan BUMI di KPC sejumlah 51%, sedangkan di Arutmin sebanyak 70%. Pendapatan kotor secara konsolidasi sebesar US$3,6 miliar, naik 38,46% yoy dari 9 bulan pertama 2016 sejumlah US$2,6 miliar.

Per kuartal III/2017, manajemen mencatat harga batu hitam penjualan batu hitam perseroan naik 39,4% yoy menjadi US$55,8 per ton dari sebelumnya US$40,1 per ton.

Menurut Dileep, rerata harga batu bara global pada 2018 dapat meningkat 5% dibandingkan tahun sebelumnya seiring dengan tingginya permintaan China dan India, serta berkurangnya pasokan dari sejumlah negara produsen utama.

Kondisi defisit pasar global yang menyebabkan kenaikan harga komoditas dapat berlangsung sampai 2-3 tahun ke depan. Adapun pada 2018, rerata harga batu bara diperkirakan berada di kisaran US$85--US$100 per ton.

Sejalan dengan peningkatan harga, BUMI melalui anak usahanya berupaya meningkatkan produksi dan penjualan menjadi 92 juta ton pada 2018. Rinciannya, Arutmin menyumbang 32 juta ton dan KPC berkontribusi 60 juta ton.

"Produksi secara konsolidasi bisa meningkat karena Arutmin berencana menghasilkan 4juta--5 juta ton baru bara kalori tinggi perdana untuk pasar ekspor," ujarnya.

Dileep mengatakan, untuk meningkatkan kinerja operasional, kedua anak usahanya mengalokasikan belanja modal sekitar US$50-US$60 juta. Pendanaan berasal dari kas internal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumi resources

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top