Faktor Global Mereda, IHSG Berpotensi Rebound

Menurunnya IHSG dalam jangka pendek disebabkan gejolak faktor global, yakni potensi adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Hafiyyan | 24 Maret 2018 00:31 WIB
Bursa Efek Indonesia - Reuters/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, JAKARTA – Menurunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek disebabkan gejolak faktor global, yakni potensi adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Jika sentimen ini mereda, indeks berpotensi kembali meningkat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/3/2018), IHSG turun 43,37 poin atau 0,69% menjadi 6.210,70. Harga melesu 1,49% secara mingguan dan terkoreksi 6,18% secara bulanan.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyampaikan penurunan IHSG dalam waktu dekat disebabkan sentimen global. Faktor yang paling diperhatikan ialah potensi perang dagang antara AS dan China.

Presiden AS Donald Trump berencana mengenakan pajak bea masuk hingga US$60 miliar. Adapun, China mempertimbangkan menaikkan pajak 128 produk dari Paman Sam yang masuk ke dalam negeri.

Sentimen tersebut berimbas negatif terhadap dua hal. Pertama, saham perusahaan di Paman Sam yang banyak mengimpor bahan baku dari China langsung rontok. Pasalnya, investor mempertimbangkan ongkos produksinya akan melonjak.

Kedua, China merupakan pembeli obligasi pemerintah AS terbesar di dunia. Adanya perang dagang membuat munculnya kemungkinan Negeri Panda berbalik melakukan aksi jual terhadap treasury AS.

"Ketika bursa AS goyang, treasury AS juga terimbas. Jadi sebetulnya lebih disebabkan masalah global penurunan IHSG. Padahal di dalam negeri sentimen cukup bagus," tuturnya pada Jumat (23/3/2018).

Menurut Hans, IHSG semestinya mengalami penguatan karena sedang memasuki periode pengumunan dan pembagian dividen dari tahun buku 2017. Sebelumnya dia memprediksi indeks baru akan terkoreksi pada pertengahan April-Mei 2018.

Perihal keputusan Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu (21/3/2018) waktu setempat, hal ini justru menjadi kabar baik karena sesuai estimasi pelaku pasar. Fed juga memerkirakan kenaikan suku bunga tiga kali pada 2018, atau masih sesuai dengan proyeksi mayoritas investor.

Permasalahannya, sambung Hans, ketika sentimen yang menekan bursa ialah faktor negatif geopolitk global, hal ini membuat sulit memprediksi kapan IHSG kembali meningkat.

"Kalau dari luar sentimennya seperti saat ini, agak susah kita perkirakan kapan IHSG bisa naik lagi. Jadi kalau sentimen global risikonya berkurang, indeks bakal rebound lagi," paparnya.

Namun demikian, menurunnya IHSG bisa menjadi momentum bagi investor untuk melakukan buy on weakness.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top